hahaha

7 Golongan Yang Mendapat Naungan Alloh SWT

Dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu:
  1. Pemimpin yang adil
  2. Pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah SWT (selalu beribadah dalam setiap aktivitasnya)
  3. Seseorang yang hatinya terikat dengan masjid 
  4. Seorang laki laki yang diuji dengan wanita yang cantik,kaya dan berkedudukan. Namun ia berpaling dan berkata ‘ Sesungguhnya aku takut kepada Allah SWT ‘. 
  5. Orang yang saling mencintai karena Allah. Bertemu dan berpisah karena Allah. 
  6. Orang yang suka memberi kepada orang lain, namun menyembunyikan perbuatannya. Dengan kata lain, tangan kanan memberi namun tangan kiri tidak diberi tahu tentangnya. 
  7. Orang yang selalu dzikir ( menginat ) kepada Allah meneteskan air mata dari kedua matanya.” (HR Bukhari).

Keterangan ;

Yang pertama, imamun adil, pemimpin yang adil, hakim yang adil. Subhanallah, terdepan, yang pertama mendapat perlindungan Allah. Dan sungguh negeri Indonesia yang tercinta ini sangat merindukan pemimpin yang adil, hakim yang adil.

Yang kedua, pemuda yang aktif, gesit, dalam ibadah kepada Allah SWT.Aktivitasnya mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

Yang ketiga, manusia, hamba Allah, yang hatinya senang berada di dalam masjid. Dia betah di masjid. Shalat berjama’ah, ia senang, subuh-subuh ia menegakkan shalat berjamaah. Allahu Akbar, tentu ini hamba Allah yang benar-benar beriman kepada Allah.

Yang keempat, orang yang bersedakah yang tangan kanannya memberi tapi tangan kirinya tidak tahu. Subhanallah.. Apa ini? Orang yang ikhlash, tidak riya, tidak ujub.

Yang kelima, orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah, berpisah karena Allah.

Yang keenam, sangat sulit ini, pemuda yang dirayu, digoda, oleh wanita cantik yang memiliki kekayaan, lalu ia berkata: “Aku takut kepada Allah”.  Keinginan maksiatnya ada, tapi rasa takutnya kepada Allah lebih hebat, sehingga ia tidak mau melakukan kemaksiatan. Kita sangat merindukan pemuda, yang memiliki kualitas keimanan yang luar biasa, sehingga ia mampu menahan dari berbagai macam godaan.

Kemudian yang ketujuh, yaitu pemuda, atau hamba Allah, atau orang yang dalam ingatannya kepada Allah, dalam ibadahnya, dalam doanya, dalam dzikirnya, ia menangis. Allahu Akbar, menangis.. Dua tetesan yang dibanggakan Allah di hari kiamat, pertama tetesan darah fii sabilillah, kedua tetesan air mata karena menangis, takut azab Allah, karena merasa bersalah atas segala dosa yang ia lakukan kepada Allah, karena ia sangat mencintai Allah.

Subhanallah.. Inilah golongan yang kelak mendapat pertolongan Allah di hari kiamat kelak. Semoga kita termasuk dalam 7 golongan tersebut. Amiin..

Kebenaran hanya milik Allah SWT,  jika ada kesalahan dalam penyampaiaan tak lain dari kesalahan penulis. Untuk itu mohon dimaafkan. Semoga Bermanfaat….!!!

KH. Abdurrahman Wahid



DATA PRIBADI

Kewarganegaran : Indonesia
Tempat, Tanggal Lahir : Jombang Jawa Timur, 4 Agustus 1940
Istri : Sinta Nuriyah
Anak : 1. Alissa Qotrunnada Munawaroh (P)
2. Zannuba Arifah Chafsoh (P)
3. Annita Hayatunnufus (P)
4. Inayah Wulandari (P)

ALAMAT Rumah : Jl. Warung Silah No. 10, Ciganjur Jakarta Selatan 12630 - Indonesia


PENDIDIKAN
1966-1970 Universitas Baghdad, Irak Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab 1964-1966 Al Azhar University, Cairo, Mesir Fakultas Syari'ah (Kulliyah al-Syari'ah) 1959-1963 Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Indonesia 1957-1959 Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia JABATAN 1998-Sekarang Partai Kebangkitan Bangsa, Indonesia Ketua Dewan Syura DPP PKB 2004-Sekarang The WAHID Institute, Indonesia Pendiri 2000-Sekarang Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Indonesia Mustasyar 2002-Sekarang Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Indonesia Rektor


PENGALAMAN JABATAN
1999-2001 Presiden Republik Indonesia 1989-1993 Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI 1987-1992 Ketua Majelis Ulama Indonesia 1984-2000 Ketua Dewan Tanfidz PBNU 1980-1984 Katib Awwal PBNU 1974-1980 Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng 1972-1974 Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Ashari, Jombang Dekan dan Dosen PENGALAMAN ORGANISASI 2003 Gerakan Moral Rekonsiliasi Nasional Penasehat 2002 Solidaritas Korban Pelanggaran HAM Penasehat 1990 Forum Demokrasi Pendiri dan Anggota 1986-1987 Festifal Film Indonesia Juri
1982-1985 Dewan Kesenian Jakarta Ketua Umum 1965 Himpunan Pemuda Peladjar Indonesia di Cairo - United Arab Republic (Mesir) Wakil Ketua


AKTIVITAS INTERNASIONAL
2003-Sekarang Non Violence Peace Movement, Seoul, Korea Selatan Presiden 2003-Sekarang International Strategic Dialogue Center, Universitas Netanya, Israel Anggota Dewan Internasional bersama Mikhail Gorbachev, Ehud Barak and Carl Bildt 2003-Sekarang International Islamic Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction (IICORR), London, Inggris Presiden Kehormatan 2002-Sekarang International and Interreligious Federation for World Peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat Anggota Dewan Penasehat Internasional 2002 Association of Muslim Community Leaders (AMCL), New York, Amerika Serikat Presiden 1994-Sekarang Shimon Perez Center for Peace, Tel Aviv, Israel Pendiri dan Anggota 1994-1998 World Conference on Religion and Peace (WCRP), New York, Amerika Serikat Presiden
1994 International Dialogue Project for Area Study and Law, Den Haag, Belanda Penasehat 1980-1983 The Aga Khan Award for Islamic Architecture Anggota Dewan Juri PENGHARGAAN 2004 Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta, Indonesia 2004 The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia 2003 Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat 2003 World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan 2003 Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris "Dare to Fail", Kuala Lumpur, Malaysia 2002 Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Indonesia. 2002 Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia 2001 Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat 2000 Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat
2000 Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International 1998 Man of The Year, Majalah REM, Indonesia 1993 Magsaysay Award, Manila , Filipina 1991 Islamic Missionary Award , Pemerintah Mesir 1990 Tokoh 1990, Majalah Editor, Indonesia


DOKTOR KEHORMATAN
2003 Netanya University , Israel 2003 Konkuk University, Seoul, South Korea 2003 Sun Moon University, Seoul, South Korea 2002 Soka Gakkai University, Tokyo, Japan 2000 Thammasat University, Bangkok, Thailand 2001 Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand 2000 Pantheon Sorborne University, Paris, France 1999 Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand


HOBI
Mendengarkan dan menyaksikan pagelaran Wayang Kulit. Mendengarkan musik, terutama lagu-lagu karya Beethoven berjudul Symphony No. 9 th, Mozart dalam 20 th piano concerto, Umm Khulsum dari Mesir, Janis Joplin dan penyanyi balada Ebiet G. Ade. Mengamati pertandingan sepak bola, terutama liga Amerika latin dan liga Eropa. Mendengarkan audio book, terutama mengenai sejarah dan biografi. Abdurrahman Wahid telah menghasilkan beberapa buah buku. Hingga saat ini dia terus menulis kolom di sejumlah surat kabar. Selain itu, dia masih aktif memberikan ceramah kepada publik di dalam maupun luar negeri.

Nasihat Imam Ghazali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya....pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab "orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya".
Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.... "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid -muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang -bintang".
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga.... "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya menjawah "gunung, bumi dan matahari".
Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (Al A'Raf 179).
Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab "besi dan gajah".
Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (Al Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.
Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?"...
Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-daunan".
Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara-gara bermesyuarat kita meninggalkan sholat.

Dan pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"...
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang".
Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA" Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Doa akhir tahun dan awal tahun baru Islam (Hijriyah)

Doa akhir tahun dan awal tahun baru Islam (Hijriyah)

Beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun baru Islam, yaitu tahun 1431 Hijriyah. Meskipun banyak dari sebagian kita umat Islam yang memandang 'biasa-biasa saja' tahun baru Islam ini namun sesungguhnya saat pergantian tahun baru Islamlah saat yang paling tepat untuk memulai sebuah resolusi baru.

'Resolusi baru', seperti itulah ungkapan yang banyak diucapkan oleh sebagian saudara-saudara kita saat mereka merayakan pergantian tahun baru Masehi. Namun sebenarnya momen yang tepat untuk memulai resolusi baru adalah ketika pergantian tahun baru Islam. Mengapa?

Untuk menjawab pertanyaan di atas kita akan melihat sekilas jauh ke belakang tentang asal muasal dimulainya perhitungan tahun/kalendar Islam (hijriyah). Ketika itu khalifah Umar bin Khattab ra. setelah berunding dengan beberapa penasihatnya akhirnya memutuskan untuk menggunakan tahun dimana Rasulullah Saw. berhijrah dari Mekah ke Madinah sebagai awal permulaan perhitungan kalendar Islam. Momentum hijrah Rasulullah Saw. dianggap mewakili 'era baru', karena bukan halnya saat itu Rasulullah berhasil meloloskan diri dari kota Mekkah yang sudah tidak kondusif lagi bagi perkembangan dakwah beliau namun juga keputusannya untuk berhijrah ke Madinah membawa pelita terang bagi kebangkitan Islam sehingga beliau berhasil membangun pondasi mental dan spiritual bagi umat Islam yang terasa sampai sekarang ini.

Para shalihin mengajarkan kita untuk berdoa ketika menjelang pergantian tahun. Dan dibawah ini adalah doa akhir tahun dan awal tahun yang lafadznya cukup terkenal karena banyak terdapat di buku-buku doa.

Doa Akhir Tahun

Bacalah doa ini tiga kali saat menjelang akhir tahun baru Islam, bisa dilakukan sesudah ashar atau sebelum maghrib pada tanggal 29 atau 30 Dzulhijah. Dengan doa ini kita memohon ketika kita akan mengakhiri perjalanan tahun yang akan ditinggalkan ini akan mendapatkan ampunan dari Allah Swt. atas perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh-Nya, dan apabila dalam tahun yang akan ditinggalkannya itu ada perbuatan-perbuatan yang diridhai oleh Allah Swt yang kita kerjakan, maka mohonlah agar amal shaleh tersebut diterima oleh Allah Swt.

Doa Akhir Tahun

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

Wa shallallaahu 'ala sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.

Allaahumma maa 'amiltu fi haadzihis-sanati mimmaa nahaitani 'anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halamta 'alayya ba'da qudratika 'alaa uquubati wa da'autani ilattaubati minhu ba'da jur'ati alaa ma'siyatika fa inni astaghfiruka fagfirlii wa maa 'amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa'adtani 'alaihits-tsawaaba fas'alukallahumma yaa kariimu yaa dzal-jalaali wal ikram an tataqabbalahuu minni wa laa taqtha' rajaai minka yaa karim, wa sallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihii wa sahbihii wa sallam
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu.
Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan ke atas keluarga dan sahabatnya.

Doa Awal Tahun
Bacalah doa ini tiga kali saat kita memasuki tanggal 1 Muharam. Bisa dilakukan selepas maghrib atau pun sesudahnya. Dengan doa ini kita sebagai Mu'min memohon kepada Allah Swt. agar dalam memasuki tahun baru ini kita dapat meningkatkan amal kebajikan dan ketaqwaan.
Doa Awal Tahun
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa 'alaa fadhlikal-'azhimi wujuudikal-mu'awwali, wa haadza 'aamun jadidun qad aqbala ilaina nas'alukal 'ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa'ihi wa junuudihi wal'auna 'alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu'i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni
ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu 'alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung.
Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya.

Seni Pernafasan - 1

seni pernafasan identik dengan senam sehat atau identik dengan tenaga dalam. pada prinsipnya hasil yang diolah sama. menghasilkan suatu energi, yaitu energi gelombang magnetik. kita melihat dari 2 sisi yang berbeda. satu dari sisi ilmiah, dan satu lagi dari gaib. dari segi ilmiah bila kita berlatih, atau melakukan gerakan yang telah ditentukan akan menyimpan energi gelombang magnetik. kenapa dinamakan ilmiah, energi yang dihasilkan dari latihan atau gerakan yang telah ditentukan bisa kita buat dengan cara-cara ilmiah. anngap aja itu suatu alat. yang terdiri dari kumparan kawat tembaga dan komponen elektronika yang telah diberi tegangan. maka akan menghasilkan gelombang elektromagnet. dari sisi gaib, biasanya orang-orang untuk memiliki tenaga dalam / gelombang elektromagnet itu harus berlatih dengan doa-doa tertentu. dinama setiap segmen itu diluar logika. tetapi hasil dari semua itu adalah energei gelombang magnetik.

di jepang, orang-orang melakukan latihan pernafasan dengan gerakan sambil menahan nafas beberapa detik kemudian dikeluarkan. waktu menahan nafas rata-rata pada setiap gerakan itu sama durasinya.
dipesantren orang-orang melakukan hal yang sama, menahan nafas sambil membaca ayat-ayat tertentu dan itu diulang-ulang sama pada setiap gerakan.
jadi intinya berlatih pernafasan itu menahan nafas pada setiap gerakan dengan durasi waktu yang sama.




Amalan pada Malam dan Hari Arafah

Hari kedelapan Dzul-Hijjah
Hari ini disebut hari Tarwiyah, hari yang sangat mulia. Pada hari ini disunnahkan berpuasa dan mandi sunnah. Puasa di sini memiliki banyak keutamaan, antara lain seperti yang disebutkan dalam suatu hadis untuk menghapus dosa-dosa selama 60 tahun.

Malam Kesembilan

Malam kesembilan disebut malam Arafah, malam yang penuh berkah. Malam untuk bermunajat dan memohon hajat kepada Allah swt. Karena malam ini adalah tercapainya hajat, malam diterimanya taubat, dan malam diperkenankannya doa.

Dalam suatu riwayat disebutkan : “Barangsiapa yang melakukan amalan untuk ketaatan kepada Allah swt di malam ini, maka nilainya sama dengan beribadah seratus tujuh puluh tahun.” Pada malam ini banyak sekali amalan, antara lain:
Pertama: Membaca Doa Malam Arafah
Dalam suatu hadis disebutkan: “Orang yang membaca Doa Malam Arafah pada malam Arafah atau pada malam hari-hari yang sepuluh, Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”

Kedua: Membaca tasbih sebanyak 1000 kali, tasbih yang dibaca pada hari Arafah.

Hari Arafah
Hari ini adalah hari Allah memanggil hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Pada hari ini Allah meluaskan bagi mereka kebaikan dan kedermawanan-Nya. Sementara setan berada dalam keadaan terhina, marah dan tersingkir dibanding hari-hari yang lain.

Ada suatu kisah dari Imam Zainal Abidin (sa): Pada hari Arafah beliau mendengar seorang pengemis meminta-minta kepada manusia. Lalu beliau berkata kepadanya: “Celakalah kamu, mengapa kamu meminta kepada selain Allah pada hari ini, sementara hari ini adalah hari bermunajat kepada Allah untuk mendapatkan perlindungan dalam rahmat-Nya agar karunia-Nya meliputinya, sehingga kamu berbahagia.”

Pada hari Arafah terdapat banyak amalan, antara lain:

Pertama: Mandi sunnah
Kedua: Berpuasa
Ketiga: Berziarah (baca doa ziarah) kepada Imam Husein (sa).
Keempat: Melakukan shalat sunnah dua rakaat di tempat yang tanpa atap sebelum shalat Zuhur dan sebelum membaca doa Hari Arafah.
Kelima: Sesudah shalat fardhu, melakukan shalat sunnah dua rakaat. Rakaat pertama membaca Fatihah dan surat Al-Ikhlas. Rakaat kedua membaca Fatihah dan surat Al-Kafirun. Setelah selesai melakukan shalat sunnah ini, melakukan lagi shalat sunnah empat rakaat. Setiap rakaat membaca Fatihah dan surat Al-Ikhlas sebanyak 50 kali. Cara shalat ini diajarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa).

Keenam: Membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil hari Arafah. Karena zikir ini cukup panjang, yang berminat silahkan download di sini

Ketujuh: Membaca doa berikut:
اللّهُمَّ إِنِّي أَسأَلُكَ يامَنْ هُوَ أَقْرَبُ إِلَيَّ مِنْ حَبْلِ الوَرِيدِ يامَنْ يَحُولُ بَيْنَ المَرِْ وَقَلْبِهِ يامَنْ هُوَ بِالمَنْظَرِ الأعْلى وَبِالاُفُقِ المُبِينِ يامَنْ هُوَ الرَّحْمنُ عَلى العَرْشِ اسْتَوى يامَنْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيٌْ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ أَسأَلُكَ أَنْ تُصَلِّيَ عَلى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allâhumma innî as-aluka yâ Man aqrabu `alayya min hablil warîd. Yâ Man yahûlu baynal mar-i wa qalbihi. Yâ Man Huwa bil manzharil a`lâ wa bil ufuqil mubîn. Yâ Man Huwar rahmânu `alal `arsyistawâ. Yâ Man laysa kamitslihi syay-un. Wa Huwas samî`ul bashîr. As-aluka an tushalliya `alâ Muhammadin wa âli Muhammad.

Ya Allah,
Sungguh aku bermohon pada-Mu,
wahai Yang Maha Dekat kepada-Ku dari urat leher.
Wahai Yang Mendindingi antara manusia dan hatinya.
Wahai Yang berada di kedudukan yang agung dan ufuk yang terang.
Wahai Yang Maha Penyayang di Arasy yang tinggi.
Wahai Yang tak diserupai oleh sesuatu pun.
Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Aku bermohon kepada-Mu, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Kemudian Memohon hajat kepada Allah swt, insya Allah diijabah.

Kedelapan: Membaca shalawat yang diajarkan oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa). Beliau berkata: “Barangsiapa yang ingin menggembirakan Muhammad dan keluarganya, hendaknya ia membaca shalawat kepada mereka.”
Shalawat ini klik di sini

Kesembilan: Membaca do’a Ummu Dawud, doanya download di sini
Kesepuluh: Membaca doa Arafah, yaitu doa Imam Husein (sa) di Arafah.
(Mafatihul Jinan, bab 2: 253-260)

syarat dan penyembelihan hewan qurban

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda pada hari Nahar, “Barang siapa yang menyembelih sebelum shalat hendaknya dia ulangi”, maka berdirilah seorang lelaki, “Ya Rasulullah, ini adalah hari yang daging itu sangat dinikmati”, dan laki-laki tersebut menyebutkan keperluan dari tetangganya sehingga dia menyembelih sebelum shalat, maka Rasulullah seakan-akan membenarkannya, “Saya memiliki kambing yang belum cukup umur yaitu lebih saya senangi dari pada dua kambing berdaging, apakah saya boleh menyembelih kambing yang belum cukup umur ini”, maka Nabi memberikan keringanan baginya.
Saya (Anas) tidak tahu apakah keringanan ini khusus baginya atau juga bagi yang lain. Kemudian Rasulullah merunduk pada kedua kambing itu dan menyembelih keduanya. Maka berdirilah sekolompok manusia pada kambing kecil (kecil jika dibandingkan dengan yang lain tapi sudah cukup umur) maka mereka saling membagi.
Kesimpulan: menyembelih hewan kurban harus sudah memenuhi umur yang ditentukan oleh syariat, apabila kurang dari umur yang ditentukan maka tidak syah kurbannya dan hanya dihitung sebagai sadaqah. Keringanan di atas hanya diberikan kepada beberapa sahabat saja dan tidak diberikan kepada orang lain lagi setelahnya.

Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah shalat kemudian khutbah dan beliau memerintahkan orang yang menyembelih sebelum shalat untuk mengulanginya.

Kesimpulan:
Awal waktu menyembelih adalah setelah salat Idul Adha bagi orang yang tidak bepergian, sedangkan bagi orang yang sedang safar (bepergian) maka mereka memperkirakan waktu dimana kaum Muslimin telah selesai mengerjakan shalat Idul Adha.
Akhir waktu menyembelih terdapat dua pendapat dari kalangan Ulama, pendapat pertama ketika matahari terbenam pada tanggal 12 Dzulhijjah dan pendapat kedua ketika matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah. Dalil dari pendapat kedua memakai ayat “Agar mereka mengingat Allah pada hari-hari yang telah ditentukan”. Pada ayat ini disebutkan hari-hari (ayyaamin) dalam bentuk jamak. Dalam bahasa Arab kata jamak memiliki jumlah minimal tiga. Dan ini pendapat yang dipilih kebanyakan ulama pada masa ini. Akan tetapi apabila memilih untuk berhati-hati dengan memilih batas akhir tanggal 12 maka hal ini juga diperbolehkan karena tidak terdapat riwayat yang kuat dari sahabat yang menunjukkan mereka menyembelih pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Bab Mengenai Umur Hewan Kurban
Dalam berkurban terdapat 5 syarat hewan yang akan dikurbankan secara global:

1. Merupakan hewan ternak.
2. Telah memenuhi umur.
3. Terlepas dari cacat.
4. Disembelih pada waktunya.
5. Merupakan milik pribadi, hewan tersebut tidak terkait dengan hak orang lain.

Dari Jabir Radhiyallahu ta`ala ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Jangan kalian menyembelih kecuali hewan yang sudah memenuhi umur, kecuali kalau sulit bagi kalian. Apabila sulit bagi kalian maka sembelihlah jada-a dari domba.”
Yang termasuk hewan ternak adalah unta, kambing, dan sapi. Sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang menjelaskan tentang berkurban. Dan ditegaskan oleh Ibnu Qayim bahwa tidak pernah diriwayatkan dari Rasulullah ataupun sahabat untuk penyembelihan kurban, haji, aqiqah kecuali dari hewan ternak. Jadi tidak syah berkurban dengan 100 ekor ayam, bebek, dll.
Tidak ada perbedaan antara sapi dan kerbau karena hakikatnya sama, demikian pendapat Asy Syaikh Abdulaziz bin Muhammad Alu Syaikh dan Asy Syaikh Shalih Al Fauzan.

Urutan keutamaan berkurban dari hewan yang dikurbankan:

1. Dengan 1 ekor unta
2. Dengan 1 ekor sapi
3. Dengan 1 ekor kambing
4. Dengan 1/7 unta
5. Dengan 1/7 sapi

(*admin, demikian dijelaskan oleh Al Ustadz Dzulqarnain, padahal sebenarnya harga 1/7 unta lebih mahal daripada harga 1 ekor kambing)
Sedangkan untuk nomor yang sama maka dilihat dari sisi harga, penampilan, jumlah daging, jenis kelasnya, dll. Boleh berkurban baik dari jenis betina atau pejantan.

Umur Hewan Kurban
Penetapan umur minimal hewan kurban tidak disebutkan dalam nash hadits, akan tetapi hal tersebut dipahami dari kebiasaan bangsa Arab. Umur minimal untuk hewan kurban sebagai berikut:

1. Unta minimal 5 tahun dan telah masuk tahun ke 6.
2. Sapi minimal 2 tahun dan telah masuk tahun ke 3.
3. Kambing Domba diperbolehkan umur minimal 6 bulan bagi yang sulit mendapatkan yang 1 tahun. Sedangkan bagi jenis selain Domba (misal kambing jawa) maka minimal umur 1 tahun dan telah masuk tahun ke 2.

Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shalat mengimami kami pada hari Nahr, maka majulah sekelompok lelaki kemudian mereka menyembelih, dan mereka menyangka bahwa Rasulullah telah menyembelih, maka Rasulullah memerintah bagi siapa yang telah menyembelih untuk menyembelih dengan sesembelihan yang lain dan agar mereka tidak menyembelih sebelum Rasulullah menyembelih kurbannya.
Pelajaran:
Apabila imam / pimpinan suatu negeri menyembelih di tempat yang terbuka, maka dia tidak boleh mendahului imam tersebut. Apabila dia menyembelih mendahului imam, maka sesembelihannya tidak sah. Tetapi apabila imam tersebut tidak menampakkan syiar ini, maka kita boleh menyembelih apabila shalat Idul Adha telah dilaksanakan.

Dari Uqbah bin Amir, sesungguhnya Rasulullah memberikan kambing agar dibagikan untuk disembelih, maka tersisa bagiku kambing yang bukan domba (belum 1 tahun), maka hal ini disebutkan kepada Nabi dan Nabi memerintahkan untuk menyembelih baginya.

Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah membagi di tengah kami hewan kurban, dan sayapun hanya mendapatkan jada-a (kambing bukan domba yang berumur kurang dari 1 tahun), maka Rasulullah bersabda “sembelihlah”.

Tidak Boleh Terdapat Cacat Pada Hewan Kurban
Keterangan ini berdasar hadits dari Bara` bin Azid, diriwayatkan oleh Imam Malik, Akhmad, Abu Dawud, At Tarmidzi, dll.
1.Sembelihan pincang yang sangat tampak kepincangannya.
Kepincangan disini dimaksudkan adalah pincang yang mengganggu dia berjalan dan membuat dia terlambat dari kawan-kawannya. Tetapi apabila hewan tersebut dapat berjalan beriringan dengan kawanannya walaupun sebenarnya dia pincang, maka sah kurbannya. Tetapi tetap lebih utama yang sempurna tidak pincang. Termasuk disini tidak sah berkurban dengan hewan yang putus kakinya.
2.Sembelihan buta sebelah matanya yang sangat nampak kebutaannya.
Yang dimaksudkan sangat nampak kebutaannya disini misalkan mata yang buta berubah fisiknya, misal dengan menonjol keluar atau cekung ke dalam. Adapun mata yang buta tapi fisiknya sama dengan mata normal, maka sah disembelih. Begitu pula hewan yang matanya rabun, sah untuk disembelih.
3.Sembelihan sakit yang sangat nampak sakitnya.
Sangat nampak sakitnya misalkan dengan menggigil, di kulitnya terlihat penyakit, dll. Adapun hewan yang misalkan tidur-tiduran terus maka sah berkurban dengannya.
4.Sembelihan kurus yang tidak berlemak / bersumsum.
Hal ini tentunya hanya dapat diketahui oleh orang yang ahli, maka apabila hewan kurban terlihat kurus tapi dinilai dia masih memiliki lemak / sumsum maka sah disembelih.


Kurban memiliki beberapa syarat yang tidak sah kecuali jika telah memenuhinya, yaitu.

[1]. Hewan kurbannya berupa binatang ternak, yaitu unta, sapi dan kambing, baik domba atau kambing biasa.

[2]. Telah sampai usia yang dituntut syari’at berupa jaza’ah (berusia setengah tahun) dari domba atau tsaniyyah (berusia setahun penuh) dari yang lainnya.

a. Ats-Tsaniy dari unta adalah yang telah sempurna berusia lima tahun
b. Ats-Tsaniy dari sapi adalah yang telah sempurna berusia dua tahun
c. Ats-Tsaniy dari kambing adalah yang telah sempurna berusia setahun
d. Al-Jadza’ adalah yang telah sempurna berusia enam bulan

[3]. Bebas dari aib (cacat) yang mencegah keabsahannya, yaitu apa yang telah dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

a. Buta sebelah yang jelas/tampak
b. Sakit yang jelas.
c. Pincang yang jelas
d. Sangat kurus, tidak mempunyai sumsum tulang

Dan hal yang serupa atau lebih dari yang disebutkan di atas dimasukkan ke dalam aib-aib (cacat) ini, sehingga tidak sah berkurban dengannya, seperti buta kedua matanya, kedua tangan dan kakinya putus, ataupun lumpuh.

[4]. Hewan kurban tersebut milik orang yang berkurban atau diperbolehkan (di izinkan) baginya untuk berkurban dengannya. Maka tidak sah berkurban dengan hewan hasil merampok dan mencuri, atau hewan tersebut milik dua orang yang beserikat kecuali dengan izin teman serikatnya tersebut.

[5]. Tidak ada hubungan dengan hakl orang lain. Maka tidak sah berkurban dengan hewan gadai dan hewan warisan sebelum warisannya di bagi.
[6]. Penyembelihan kurbannya harus terjadi pada waktu yang telah ditentukan syariat. Maka jika disembelih sebelum atau sesudah waktu tersebut, maka sembelihan kurbannya tidak sah

[Lihat Bidaayatul Mujtahid (I/450), Al-Mugni (VIII/637) dan setelahnya, Badaa’I’ush Shana’i (VI/2833) dan Al-Muhalla (VIII/30).

HEWAN KURBAN YANG UTAMA DAN YANG DIMAKRUHKAN
Yang paling utama dari hewan kurban menurut jenisnya adalah unta, lalu sapi. Jika penyembelihannya dengan sempurna, kemudian domba, kemudian kambing biasa, kemudian sepertujuh unta, kemudian sepertujuh sapi.

Yang paling utama menurut sifatnya adalah hean yang memenuhi sifat-sifat sempurna dan bagus dalam binatang ternak. Hal ini sudah dikenal oleh ahli yang berpengalaman dalam bidang ini. Di antaranya.

a. Gemuk
b. Dagingnya banyak
c. Bentuk fisiknya sempurna
d. Bentuknya bagus
e. Harganya mahal

Sedangkan yang dimakruhkan dari hewan kurban adalah.

[1]. Telinga dan ekornya putus atau telinganya sobek, memanjang atau melebar.
[2]. Pantat dan ambing susunya putus atau sebagian dari keduanya seperti –misalnya putting susunya terputus-
[3]. Gila
[4]. Kehilangan gigi (ompong)
[5]. Tidak bertanduk dan tanduknya patah

Ahli fiqih Rahimahullah juga telah memakruhkan Al-Adbhaa’ (hewan yang hilang lebih dari separuh telinga atau tanduknya), Al-Muqaabalah (putus ujung telinganya), Al-Mudaabirah (putus dari bagian belakang telinga), Asy-Syarqa’ (telinganya sobek oleh besi pembuat tanda pada binatang), Al-Kharqaa (sobek telinganya), Al-Bahqaa (sebelah matanya tidak melihat), Al-Batraa (yang tidak memiliki ekor), Al-Musyayya’ah (yang lemah) dan Al-Mushfarah [1]

[Disalin dari kitab Ahkaamul Iidain wa Asyri Dzil Hijjah, Edisi Indonesia Lebaran Menurut Sunnah Yang Shahih, Penulis Dr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar, Penerjemah Kholid Syamhudi Lc, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

Doa untuk Lumpuhkan Kekuatan Lawan

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berakata: Sesungguhnya orang yang membaca doa ini tujuh kali setiap hari sebelum matahari terbit, dan meniup ke enam arah, ia akan terjaga dari kejahatan musuh-musuhnya dan tidak terkena bahayanya, dan mereka tidak akan mampu menundukkannya:

بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على محمد وآل محمد

Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

اَللَّهُمَّ سَخِّرْلِي اَعْدَآئِي كَمَاسَخَّرْتَ الرِّيْحَ لِسُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُوْدَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ، وَلَيِّنْهُمْ لِي كَمَا لَيَّنْتَ الْحَدِيْدَ لِدَاوُوْدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَذَلِّلْهُمْ لِي كَمَاذَلَّلْتَ فِرْعَوْنَ لِمُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَاقْهَرْهُمْ لِى كَمَا قَهَرْتَ اَبَاجَهْلٍ لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ بِحَقِّ كهيعص حمعسق صُمُّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَيَرْجِعُوْنَ، صُمُّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَيُبْصِرُوْنَ، صُمُّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَيَعْقِلُوْنَ، فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَصَلَى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ بِحُرْمَةِ كهيعص حمعسق وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad

Allâhumma sakhkhirlî a‘dâî kamâ sakhkhartar rîha li-Sulaymânabni Dâwûda ‘alayhimas salâm, wa layyinhumlî kamâ layyantal hadîda li-Dâwûda ‘alayhis salâm, wa dzallilhumlî kamâ dzalalta Fir`awna li-Mûsâ ‘alayhis salâm, waqharhumlî kamâ qaharta Abâ Jahlin li-Muhammadin shallallâhu ‘alayhi wa âlihi bihaqqi kâf-hâ-yâ-‘âyn-shâd hâ-mîm-‘âyn-sîn-qâf; shummum bukmun ‘umyun fahum lâ yarji‘ûn, shummum bukmun ‘umyun fahum lâ yubshirûn, shummum bukmun ‘umyun fahum lâ ya‘qilûn, fasayakfîkahumullâhu wa Huwas Samî‘ul ‘Alîm wa shallallâhu ‘alâ khayri khalqihi Muhammadin wa âlihi ajma‘în. Bismillâhir Rahmânir Rahîm bihurmati Kâf-hâ-yâ-`ayn-shâd hâ-mîm-`ayn-sîn-qâf wa lâ hawla walâ quwwata illâ billahil ‘Aliyyil ‘Azhîm.

Ya Allah, tundukkan padaku musuh-musuhku sebagaimana Kau tundukkan angin pada Sulaiman bin Dawud (as), lunakkan mereka padaku sebagaimana Kau lunakkan besi pada Dawud (as), hinakan mereka di hadapanku sebagaimana Kau hinakan Fir’aun di hadapan Musa (as), dan kalahkan mereka bagiku sebagaimana Kau kalahkan Abu Jahal bagi Muhammad saw dengan hak:
Kâf-hâ-yâ-`âyn-shâd Hâ-mîm-`âyn-sîn-qâf
shummum bukmun ‘umyun fahum lâ yarji‘ûn (mereka tuli, bisu dan buta sehingga mereka tidak akan kembali)
shummum bukmun ‘umyun fahum lâ yubshirûn (mereka tuli, bisu dan buta sehingga mereka tidak akan melihat)
shummum bukmun ‘umyun fahum lâ ya‘qilûn (mereka tuli, bisu dan buta sehingga mereka tidak mampu berpikir)
Sehingga Allah melindungi kamu dari mereka, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepada makhluk yang terbaik Muhammad dan seluruh keluarganya. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dengan kemuliaan Kâf-hâ-yâ-`âyn-shâd Hâ-mîm-`âyn-sîn-qâf, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
(Mujarrabat Imamiyah: 106)

Shalat Hajat untuk Memperoleh Kemudahan Rizki

Diriwayatkan dari Imam Zainal Abidin (sa): Pada suatu hari ia menjumpai seseorang sedang duduk di depan pintu orang lain, lalu beliau berkata kepadanya: Mengapa kamu duduk di depan pintu manusia yang hidupnya suka berfoya-foya dan angkuh, celakalah kamu. Lalu beliau berkata: Bangunlah! Akan kuantarkan kamu ke pintu yang lebih baik darinya, kepada Pemelihara Yang Maha Agung. Kemudian Imam Zainal Abidin (sa) memegang tangannya lalu mengantarkannya sampai ke masjid Nabi saw. Lalu beliau berkata kepadanya: Menghadaplah ke kiblat, lalukan shalat dua rakaat, kemudian angkatlah tanganmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, pujilah Allah, bacalah shalawat; kemudian berdoalah dengan akhir surat Al-Hasyr, enam ayat dari awal surat Al-Hadid, dan dua ayat surat Ali-Imran, kemudian mohonlah kepada Allah swt apa yang kamu inginkan. Sungguh tidaklah kamu meminta sesuatu kepada-Nya kecuali Dia akan memberimu.

Cara melakukannya:
• Lakukan shalat dua rakaat dengan niat untuk mencapai hajat. Setiap rakaat setelah membaca Fatihah, membaca salah satu surat Al-Qur’an.
• Setelah salam membaca zikir pujian kepada Allah, dan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya.
• Kemudian berdoa dengan membaca akhir surat Al-Hasyr, enam ayat dari awal Surat Al-Hadid, dan dua ayat Surat Ali-Imran, yaitu:

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعاً مُّتَصدِّعاً مِّنْ خَشيَةِ اللَّهِ وَ تِلْك الأَمْثَلُ نَضرِبهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ. هُوَ اللَّهُ الَّذِى لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلِمُ الْغَيْبِ وَ الشهَدَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ. هُوَ اللَّهُ الَّذِى لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِك الْقُدُّوس السلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكبرُ سبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشرِكونَ. هُوَ اللَّهُ الْخَلِقُ الْبَارِئُ الْمُصوِّرُ لَهُ الأَسمَاءُ الْحُسنى يُسبِّحُ لَهُ مَا فى السمَاوَتِ وَ الأَرْضِ وَ هُوَ الْعَزِيزُ الحَْكِيمُ
Law anzalnâ hâdzal qur’âna ‘a-lâ jabalin laraytuhû khâsyi’an mutashaddi’an min khasy-yatil-lâh, wa tilkal amtsâlu nadhribuhâ linnâsi la’allahum yatafakka-rûn. Huwallâhul ladzî lâilâha illâ Huwa, ‘آlimul ghaybi wasy syahâdah, Huwar Rahmânur Rahîm. Huwallâhul ladzî lâ ilâha illâ Huwal Malikul Qud-dûsus Salâmul Mu’minul Muhaymin(u), Al-’Azîzul Jabbârul Mutakabbir, Subhânallâhi ‘ammâ yusyrikûn(a). Huwallâhul Khâliqul Bâriul Mushawwiru, lahul asmâul husnâ, yusabbihu lahû mâ fis samâwâti wal ardhi, wa Huwal ‘Azîzul Hakîm.

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. Dialah Allah Yang tiada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Memberi kesejahteraan, Yang Maha Memberi keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memiliki semua keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Dialah Yang Memiliki nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-Hasyr/59: 21-24).

بِسمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ‏
سبَّحَ للَّهِ مَا فى السمَوَتِ وَ الأَرْضِ وَ هُوَ الْعَزِيزُ الحَْكِيمُ‏. لَهُ مُلْك السمَوَتِ وَ الأَرْضِ يحْىِ وَ يُمِيت وَ هُوَ عَلى كلّ‏ِ شىْ‏ءٍ قَدِيرٌ. هُوَ الأَوَّلُ وَ الاَخِرُ وَ الظهِرُ وَ الْبَاطِنُ وَ هُوَ بِكلّ‏ِ شىْ‏ءٍ عَلِيمٌ‏. هُوَ الَّذِى خَلَقَ السمَوَتِ وَ الأَرْض فى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثمَّ استَوَى عَلى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فى الأَرْضِ وَ مَا يخْرُجُ مِنهَا وَ مَا يَنزِلُ مِنَ السمَاءِ وَ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَ هُوَ مَعَكمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ. لَّهُ مُلْك السمَوَتِ وَ الأَرْضِ وَ إِلى اللَّهِ تُرْجَعُ الأُمُورُ. يُولِجُ الَّيْلَ فى النهَارِ وَ يُولِجُ النهَارَ فى الَّيْلِ وَ هُوَ عَلِيمُ بِذَاتِ الصدُورِ

Bismillâhir Rahmânir Rahîm, sabbaha lillâhi mâ fis samâwâti wal ardh(i), wa Huwal ‘Azîzul Hakîm(u). Lahû mulkus samâ-wâti wal ardh(i), yuhyî wa yumît(u), wa Huwa ‘alâ kulli syay-in qadîr(u). Huwal Awwa-lu wal آkhiru wazh-Zhâhiru wal Bâthin(u), wa Huwa bikulli syay-in ‘alîm(u). Huwal ladzî khalaqas samâwâti wal ardha fî sittati ayyâm(in) tsummastawâ ‘alal ‘arsy(i), ya’lamu mâ yaliju fil ardhi wamâ yakhruju minhâ wamâ yanzilu minas samâi wa mâ ya’ruju fîhâ, wa Huwa ma’akum aynamâ kuntum, wallâhu bimâ ta’malûna bashîr(u). Lahû mulkus samâwâti wal ardh(i), wa ilallâhi turja’ul umûr(u). Yûlijul layla fin nahâri wa yûlijun nahâra fil layl(i), wa Huwa ‘Alîmun bidzâtish shudûr.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dilalah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Milik Dialah langit dan bumi, Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Milik Dialah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (Al-Hadid/57: 1-6).

قُلِ اللَّهُمَّ مَلِك الْمُلْكِ تُؤْتى الْمُلْك مَن تَشاءُ وَ تَنزِعُ الْمُلْك مِمَّن تَشاءُ وَ تُعِزُّ مَن تَشاءُ وَ تُذِلُّ مَن تَشاءُ بِيَدِك الْخَيرُ إِنَّك عَلى كلّ‏ِ شىْ‏ءٍ قَدِيرٌ. تُولِجُ الَّيْلَ فى النَّهَارِ وَ تُولِجُ النَّهَارَ فى الَّيْلِ وَ تُخْرِجُ الْحَىَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ تُخْرِجُ الْمَيِّت مِنَ الْحَىّ‏ِ وَ تَرْزُقُ مَن تَشاءُ بِغَيرِ حِسابٍ‏
Qulillâhumma mâlikal mulki tu’til mulka man tasyâ’ wa tun-zi’ul mulka mimman tasyâ’, wa tu’izzu man tasyâ’ wa tudzillu man tasyâ’ biyadikal khayr(u), innaka ‘alâ kulli syay-in qadîr (un). Tûlijul layla fin nahâri wa tûlijun nahâra fil layl(i), wa tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayy(i), wa tarzuqu man tasyâu bighayri hisâb.

Katakanlah: Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab, tanpa perhitungan. (Ali-Imran/3: 26-27).

Catatan: Jika Anda ingin lebih khusuk, maka setelah membaca ayat-ayat Al-Qur’an tersebut sujudlah dan mohonlah kepada Allah Yang Maha Dermawan dengan menggunakan bahasa Anda.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430

Kami ingin mengucapkan selamat tinggal pada bulan Ramadhan
Selamat tinggal kepada dia yang menyedihkan perpisahannya, yang merisaukan dan merindukan kami kepergiannya. Untuknya punya janji, janji yang dijaga, kesucian yang dipelihara, hak yang dipenuhi.
Kami sampaikan kepadanya: Salam bagimu duhai bulan Allah yang agung, wahai hari raya para kekasih-Nya.

Salam bagimu duhai Ramadhan
duhai yang tidak meninggalkan kebosanan
dan puasanya tidak meninggakan penyakit

Salam bagimu duhai Ramadhan
duhai yang dicari sebelum waktunya
duhai yang ditangisi sebelum kepergiannya

Salam bagimu duhai Ramadhan
dan bagi malam Al-Qadar yang lebih baik dari seribu bulan

Salam bagimu, betapa senangnya kami kepadamu kemarin
betapa rindunya kami kepadamu esok!

Ya Allah, kami pecinta bulan ini. Dengannya Kau muliakan kami. Telah Kau untungkan kami ketika orang durhaka tidak mengetahui waktunya, ketika orang celaka dijauhkan dari keutamaannya.

Ya Allah
Engkau sambut orang yang menentang-Mu dengan santun.
Engkau biarkan orang yang berbuat zalim pada dirinya.
Engkau tunggu mereka dengan sabar sampai mereka kembali kepada-Mu.
Engkau tahan mereka untuk tidak segera bertaubat supaya yang binasa tidak binasa karena-Mu, dan orang yang celaka tidak celaka karena nikmat-Mu.
Tetapi hanya setelah Engkau lama membiarkan mereka dan setelah Kausampaikan rangkaian bukti atas mereka
sebagai kemurahan ampunan-Mu wahai Yang Maha Pemurah,
sebagai anugrah kelembutan-Mu wahai Yang Maha Santun.


Minal ‘âidin wal-fâizin, taqabballallâhu minnâ wa minkum
Semoga kita menjadi orang yang kembali pada fitrah dan beruntung, semoga Allah menerima puasa dan ibadah kita.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Doa Bulan Rajab

Rasululloh bersabda :
Rajab adalah bulan Alloh, Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan umatku.
Bulan rajab adalah bulan Alloh. Barangsipa yang berpuasa sehari dalam bulan rajan dengan mengharapkn keridhaan Allah, Ia akan mendapatkan keridhaan Alloh.

Dikisahkan, seorang perempuan beribadah dibaitul maqdis. Setiap hari selama bulan rajab ia membaca surat al-ikhlas 12 ribu kali. Perempuan itu selalu memakai baju mantel. Pada suatu waktu perempuan itu sakit keras. Ia berwasiat kepada anaknya. Jika ia mati agar mantelnya disertakan kedalam kuburannya. Namun anaknya lupa melaksankan wasiat itu.

Pada suatu malam anaknya bermimpi melihat ibunya. Ibuny berkata “Anakku, aku tidak meridhaimu, sebab engkau tidak melaksanakan wasiatku”. Anak itu terbangun dari tidurnya dengan perasaan cemas. Ia bergegas menuju kuburan ibunya. Lalu menggali kuburannya. Betapa kagetnya karena jenazah ibunya sudah tidak ada dalam lubang kuburnya. Lalu terdengar suara “Apakah engkau tidak tahu bahwa barang siapa yang taat kepada Alloh pada bulan rajab, kami tidak akan membiarkannya sendirian dalam kuburnya.

Jika dating sepertiga malam jum’at pertama bulan rajab, para malaikat memintakan ampunan bagi orang-orang yang berpuasa pada bulan itu.

Anas r.a meriwayatkan bahwa rasululloh bersabda : Barang siapa yang berpuasa 3 hari dalam bulan yang dimuliakan, ia mendapat pahala orang yang beribadah kepada Alloh semala 900 tahun.
Kemudian Anas r.a menegakn apa yang telah diucapkannya “kedua telingaku ini akan tuli jika aku tidak mendengar hal tersebut dari Rasululloh saw”

Doa Bulan Rajab
اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، واَعِنَّا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَحِفْظِ اللِّسَانِ، وَغَضِّ الْبَصَرِ، وَلاَ تَجْعَلْ حَظَّـنَا مِنْهُ الْجُوعَ وَالْعَطَشَ .


Allâhumma barik lana fi Rajab wa sya’ban, wa ballighnâ syahra Ramadhan, wa a’innâ ‘alâsh shiyâmi wal qiyâmi wa hifzhil lisân, wa ghadhdhal bashari, wa lâ taj’al hazhzhnâ minhul jû’a wal ‘athasy.
(Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, sampaikan kami pada bulan Ramadhan. Bantulah kami untuk melakukan puasa, qiyamul layl, menjaga lisan dan menjaga pandangan, dan jangan jadikan puasa kami hanya lapar dan dahaga.)

Malaikat Kecil Di Kelas Ku

Kisah ini kudapatkan dari lingkaran cahayaku tiap pekan. Tentang seorang anak "malaikat" yang luar biasa. Murabbiku mulai bercerita dengan gayanya yang khas. Tentang anak sepasang aktivis da'wah.

Alkisah sang Umi dan Abi mendidik anaknya begitu baik, dalam bi'ah yang teramat kondusif. Waktu-waktu sang mujahid kecil lebih banyak dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat di dalam rumah, berinteraksi intens dengan al-Qur'an, menjauhi berbagai media hiburan apapun. Subhanallah, dia bagaikan cahaya dalam rumah itu. Begitu sholehnya. Lisannya tak banyak bicara, pandangannya pun terjaga. Umi mengelus dadanya lega, Ya Rabb alhamdulillah kau berikan qurata a'yun bagi kami. Waktu terus bergulir, anaknya beranjak remaja. Dia kelas satu SMP saat ini. Tapi tidak di SMP-IT seperti waktu SDnya. Jundi kecilnya masuk sebuah SMP favorit di kota tempat tinggalnya. Umi dan Abi yakin mujahid kecilnya bisa menjaga diri. Dia sudah kuat untuk membentengi dirinya dari berbagai pengaruh luar yang mungkin menggoda imannya.

Aku tersenyum mendengar kisah ini, tapi … tunggu sebentar ukh, ceritanya belum berakhir. Hingga satu waktu, sang Umi mengikuti acara rapat orang tua murid kelas mujahid kecilnya. Seorang ibu yang duduk di sebelahnya mengajaknya bicara.
"Anak ibu siapa?"
Sang Umi menjawab dengan kebanggaan yang tak kuasa disembunyikan, entahlah, mengingat mujahid kecilnya terkadang membuatnya sangat bangga, "Faris, bu."
"Anak ibu?"
"Oh…faris, yang malaikat kecil itu ya?"

Umi terhenyak, malaikat kecil??? Ibu tersebut merasakan kekagetan Umi, buru-buru dijelaskannya,"Iya, anak saya Doni sering cerita tentang Faris. Dia bilang ada malaikat dikelasku bu. Anaknya alim banget. Begitu sampai kekelas dia langsung duduk dan membuka Al-Qur'annya. Kalau belum bel, ga berhenti baca Qur'an bu. Keren kan. Trus istirahat, dia lebih banyak baca buku-buku Islam. Ga pernah maen kartu bareng aa, bororaah maen smack down-smack downan, maen games aja ga pernah. Pokoknya cool abiz. Trus ma anak perempuan japan banget deh Bu. Katanya si Doni japan itu jaga pandangan Bu. Jarang banyak bicara, waktunya terisi dengan sempurna.
Makanya anak saya dan teman-teman sekelasnya menyebut Faris, malaikat di kelasnya. Begitu terjaga, hingga teman-temannya segan untuk sekedar berbicara dengannya. Apalagi curhat atau ngajakin maen. Akhirnya Faris sering tampak kesepian dan sendiri. Soalnya Doni bilang, ga enak atuh bu, Doni mah malu and minder sama dia teh. Trus Faris juga da ga pernah cerita apa-apa, ngobrol aja jarang Bu. Padahal ya Bu, aa teh kagum sama dia. Pengen jadi kaya Faris, tapi aa tetep pengen gaul juga. Ga mungkin ya Bu? Aa jadi malaikat? Ke laut aja kali ya Bu."

Ibunya Doni terus berbicara. Sepertinya memang sudah bawaan dari orok hobi bicarannya itu.

Umi masih terkaget-kaget. Rasanya seperti tersambar petir di siang hari.

Beruntung, rapat itu segera berakhir. Umi segera mencari tempat wudhu dan bergegas menuju mesjid. Matanya mulai memerah. Ya Rabb, apakah yang salah? Ia dan suaminya tidak pernah sedikitpun meniatkan anaknya menjadi sosok yang seperti itu. Meski ia faham ghuroba adalah hal yang mungkin terjadi pada seorang da'i. Umi mulai sesegukan, diambilnya Al-Qur'an dan mulai dibacanya untuk menenangkan diri. Sayup-sayup dari lantai bawah mesjid sekolah, didengarnya suara tilawah yang teramat dikenalnya.

Umi mengintip dari pagar lantai atas. Mujahid kecilnya sedang asyik dalam tilawahnya, sendirian di mesjid yang besar ini.

Umi mulai mengevaluasi diri, meski rasanya ingin segera ketemu abi dan menceritakan semua ini. Ada satu fase yang terlupakan dalam pola pembinaan keduanya. Bahwa tarbiyah membangun potensi anak sesuai dengan fitrahnya. Sesuai dengan usianya. Umi menyadari ia telah membentengi Faris dengan sistem imun yang kuat, tapi umi jarang mengingatkan Faris untuk menjadi kader yang muntijah ( produktif ). Yang kebaikannya menyebar pada orang lain, yang kehadirannya memberi manfaat bagi sekitarnya, yang kesholehannya menjadi kesholehan jama'I, bukan hanya kesholehan pribadi, dan yang menjadi manusia- manusia luar biasa dengan kemampuan komunikasi da'wah yang luar biasa. Bukan jamaah malaikat, tapi jamaah manusia.

Dihapusnya air matanya. Ada PR baru yang sangat besar untuk ia syurokan dengan Abinya. Bagaimana mengajarkan mujahid kecilnya berbaur tapi tidak lebur. Menjadikannya lebih mudah dijangkau oleh sekitarnya, mengajarkannya lebih banyak berbicara dalam rangkaian da'wah fardiyah dan mengajak sebanyak mungkin orang menuju surga Allah. Menjadikannya seorang remaja yang memang melewati berbagai fase perjalanan kehidupannya seiring fitrahnya. Mungkin satu waktu dia mengecengi seorang anak perempuan, mungkin satu waktu dia sangat ingin bermain games, atau menonton bersama teman-temannya. Umi tak ingin anaknya hanya bisa bersahabat dengan satu komunitas yang baik saja, umi ingin anaknya jadi kader tangguh yang mampu taklukan berbagai medan da'wah amah. Memiliki jaringan ukhuwah yang luas. Hamasahnya menggelora, ditatapnya mujahid kecilnya dari kejauhan. Sebuah kata terlontar dari bibirnya, Allahumaghfirlii, ya Rabb maafkan hamba. Anakku sayang, maafkan umi dan abi.

Aku ikut terhenyak. Entahlah, ada banyak rasa yang muncul dari hati ini mendengar kisah Faris. Sekejap, aku seolah berhadapan dengan binaan-binaanku. Bidadari-bidadari kecilku. Ya Rabb, sudahkah aku membina mereka dengan benar? Membangun potensi dan fitrah mereka dengan baik? Menjadikan mereka tetap dalam fitrah anak-anak seusianya, meski dengan nilai plus yang luar biasa dari sisi dien mereka.

Sekelebat ketakutan menghampiriku, sungguh aku harus lebih banyak belajar lagi tentang sasaran da'wahku. Memperhatikan psikologi perkembangan mereka. Menemani mereka melalui masa labil mereka sebagai seorang remaja. Da'wah sekolah SMP ini adalah sebuah fase awal perjalanan panjang da'wah thullaby. Aku tak ingin jundi-jundi kesayanganku hanya bertahan dalam jangka waktu yang singkat. Mereka harus lebih kuat bertahan dan bernafas panjang untuk istiqomah di jalan Al Haq ini.Aku tak ingin melahirkan traumatis-traumatis pembinaan Islam dalam diri mereka. Aku ingin mereka menjadi sosok yang merasakan indahnya Islam, kasih sayang dari mentor-mentornya, dan peningkatan kapasitas diri mereka sesuai fitrahnya.

Aku ingin membawa mereka menjadi bagian jamaah manusia, bukan jamaah malaikat. Mereka adalah remaja, kita tak mungkin menghapus fitrah mereka, kita hanya bisa membantu mereka mengendalikannya, menemani mereka melalui masa-masa sulitnya. Menjawab setiap pertanyaan mereka dengan kesabaran luar biasa. Dan terutama menjadikan mereka yang terbaik dari diri mereka sendiri. Tidak akan ada azsya-azsya kecil, yang begitu mirip dengan ku. Yang ada adalah mujahidah-mujahidah kecil dengan segala kekhasan dan potensi luar biasa dari diri mereka sendiri.

Kisah ini memulai evaluasi dan refleksi yang sangat panjang dari diriku selama hampir 9 tahun aku malang melintang di DS ini. Perbaikan pola pembinaan adalah suatu keniscayaan yang terus diupayakan. Untuk membina seorang kader muntijah, melalui fase yang tepat, membangun fitrah dan potensi yang hadir dalam dirinya.Untuk menjadi satu kekuatan da'wah bagi umat ini. Azzam baru bergelora dihatiku, karena aku adalah walid ( umi mereka di sekolah ), aku adalah syeik ( ustazah mereka di mentoring ), aku adalah qiyadah ( pemimpin mereka di DS ), dan terutama karena aku adalah sahabat mereka. Meski usiaku yang terpaut jauh dengan mereka. Asa ini takkan pernah hilang, menjadikan mereka amanah terbaik yang Allah titipkan padaku. Menjadi umi, ustadzah, qiyadah, dan sahabat terbaik bidadari- bidadari kecilku. Allahu Akbar !

Khasiat Doa Sayfush Shaghir

Di bagian akhir tulisan ini ada Link untuk download doa ini.
Sayfush Shaghir artinya pedang kecil. Doa ini digunakan untuk melunakkan dan menundukkan hati lawan, orang-orang yang zalim.

Tentang doa ini Tsiqqatul Islam Syeikh An-Nuri (ra) mengatakan dalam kitab “Ash-Shahifah Ats-Tsaniyah Al-’Alawiyah”: Di kalangan para ahli “Thilasmât dan Taskhîrât (ulama sufi terdahulu) mengatakan bahwa dalam kalimat-kalimat doa ini mengandung thilasm dan taskhir yang memiliki pengaruh menakjubkan. Tetapi kami tidak ingin melihat dari sisi yang mereka katakan, kami ingin melihat dari sisi keaslian doa ini berdasarkan dalil-dalil sunnah dan tradisi ulama yang a’lam (sangat alim).

Mungkin sebagian kita bertanya apakah “Thilasmat” dan “Taskhir” itu?. Thilasmat adalah salah satu bagian dari ilmu yang membahas tentang rahasia-rahasia huruf. Sedangkan Taskhir adalah rangkaian-rangkaian huruf dan kalimat dalam suatu doa yang dapat menundukkan hati manusia.

Untuk lebih jelasnya baiklah saya kutipkan keterangan tentang kata tesebut. Dalam Mu’jam Al-Lughah Al-’Arabiyyah Al-Ma’ashirah, Hans Wehr disebutkan: Thilasm a seal or the like inscribed with mysterious words or characters; magical combination of words.

Thilasm adalah sebuah cincin atau sejenisnya yang dituliskan kata-kata atau ungkapan-ungkapan misteri; yang memiliki daya tarik, dan terkombinasi dengan kata-kata gaibiyah.

Dalam kitabnya Al-Muqaddimah Ibu Khaldun mengatakan: Ilmu rahasia-rahasia huruf dahulu di kalangan ulama sufi dikenal dengan istilah “Thilasmât” dan di zaman ini dikenal dengan “Alsemia”

Al-Imam Ahmad bin Ali Al-Buni mengatakan dalam kitabnya Syamsul Ma’arif:
Anda jangan mengira bahwa rahasia-rahasia huruf adalah ilmu yang diperoleh dengan analogi akal, tetapi sesungguhnya rahasia-rahasia huruf itu diperoleh melalui jalan musyahadah (kesaksian mata batin) dan bimbingan Ilahi.

Ala kulli hal, doa ini memiliki keutamaan dan keajaiban yang luar biasa, dan telah dipraktekkan oleh ulama kita dan kaum mukminin, doa ini terdapat dalam kitab Mafâtihul Jinân. Doanya sebagai berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Tuhanku, masukkan aku ke dalam samudra keesaan-Mu, dan keluasan lautan ketunggalan-Mu. Kuatkanlah aku dengan kekuatan keperkasaan kekuasaan kesatuan-Mu. Sehingga aku keluar memasuki limpahan keluasan kasih-Mu, dan dalam wajahku ada kilatan cahaya kedekatan dengan-Mu, akibat perlindungan-Mu, berwibawa dengan wibawa-Mu, perkasa dengan bantuan-Mu, ditinggikan dan dimuliakan dengan pengajaran-Mu dan pensucian-Mu.

Bungkuslah aku dengan busana kemuliaan dan penerimaan-Mu. Mudahkan bagiku jalan-jalan untuk mencapai dan bergabung dengan-Mu. Mahkotai aku dengan mahkota kemuliaan dan kehormatan.

Ikatkan kecintaan antara aku dengan para kekasih-Mu, di kampung dunia dan kampung abadi. Karuniakan kepadaku dari cahaya nama-Mu kewibawaan dan kekuasaan yang menyebabkan semua hati dan arwah tunduk di hadapanku, yang membuat semua jiwa dan makhluk merendah kepadaku.

Wahai yang terhempas di hadapan-Nya kuduk-kuduk para penguasa dan pasrah kepada-Nya leher-leher para tiran, tiada tempat berlindung dan tiada tempat keselamatan dari-Mu kecuali pada-Mu. Tidak ada bantuan kecuali dengan-M, tidak ada sandaran kecuali kepada-Mu.

Tolakkan dariku reka-perdaya orang-orang yang dengki dan kezaliman kejahatan musuh-musuhku. Sayangilah aku di bawah naungan Arasy-Mu. Wahai Yang Paling Pemurah dari segala yang pemurah. Kokohkan badan lahirku untuk memperoleh keridhaan-Mu. Sinari hatiku dan batinku untuk bisa melihat jalan-jalan menuju-Mu.

Ilahi, Tuhanku, bagaimana mungkin aku keluar dari pintu-Mu dengan kesia-siaan dari-Mu, padahal telah aku pasrahkan diriku pada kepercayaan kepada-Mu. Bagaimana mungkin Engkau membuat aku putus asa, padahal telah Kau perintahkan aku untuk berdoa kepada-Mu. Inilah aku menghadap kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu.

Jauhkan aku dari musuh-musuhku sebagaimana Engkau menjauhi musuh-musuh-Mu. Silaukan pandangan mereka kepadaku dengan cahaya kesucian-Mu dan kebesaran kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Allah, Pemberi anugrah yang besar dan dimuliakan kepada orang yang menyeru-Mu melalui kelembutan rahmat-Mu.

Ya Hayyu Ya Qayyum. Wahai Yang Hidup, wahai Yang Abadi. Wahai pemilik keagungan dan kemuliaan, semoga Allah menyampaikan shalawat kepada junjungan kami dan Nabi kami Muhammad beserta semua Keluarganya yang baik dan suci.
(Mafâtihul Jinân, bab1: 107)

Siapakah Pemimpin zalim itu?

oleh :

Ifadah Amalia,
Bekasi
Gunadarma University



Pemimpin yang zalim adalah lawan Pemimpin yang adil dalam sepanjang sejarah manusia. Pemimpin yang adil mudah diucapkan dan dipromisikan. Tapi tak mudah ditemukan dalam kehidupan manusia. Kehidupan Pemimpin yang adil ganjil bagi manusia umum, karena tak sama dengan kehidupan mereka. Ia hidup sederhana, sementara umumnya manusia mendambakan hidup kemewahan. Hidup mewah tak akan pernah menyatu dengan kehidupan pemimpin yang adil......


Risalah Untuk Ukhti Muslimah - Sayid Qutb

Kisah Kehidupan dan Kematian
mpaknya kematian masih saja menghantui benakmu. Kamu membayangkan
kematian ada dimana-mana, bersembunyi dibalik setiap yang ada. Bagimu, ia
seolah-olah suatu kekuatan dahsyat yang mengancam kehidupan dan semua
yang hidup. Sehingga jika dibandingkan kematian, kamu melihat kehidupan ini sebagai
sesuatu yang kecil, namun menggelisahkan dan menakutkan.
Secara pribadi, kulihat kematian bagai kekuatan kecil dan letih disisi kekuatan
kehidupan yang meluap-luap, bergejolak, dan riuh gemuruh. Kematian nyaris tidak
berdaya untuk berbuat sesuatu, kecuali mencomot sisa-sisa yang terjatuh di meja makan
tipu daya untuk dimangsanya.
Jangkauan kehidupan yang melimpah itu, berpekik riuh dari setiap sudut
disekelilingku. Semua nampak tumbuh, mekar dan berkembang. Ibu-ibu mengandung
dan melahirkan, demikian juga hewan. Burung, ikan dan serangga melepaskan telurnya
dan kemudian telur-telur itu mentas menjemput kehidupan dan makhluk hidup lainnya.
Bumi merekah, mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, kemudian berkembang dan berbuah.
Langit mencurahkan hujan, lautan menggulung-gulungkan gelombangnya. Semua yang
ada di permukaan bumi tumbuh, dan berkembang biak.
Sesekali kematian menerkam dan merobek-robek mangsanya, lalu pergi. Atau
adakalanya ia bersembunyi mengintai makanan yang jatuh dari meja makan kehidupan
untuk dimangsanya. Sementara kehidupan berjalan terus, penuh semangat menyalanyala,
seolah-olah tidak melihat kematian itu.
Memang adakalanya kehidupan itu berteriak kesakitan, yaitu ketika kematian
menerkam dan mengoyak tubuhnya. Akan tetapi, alangkah cepat sembuhnya luka-luka
itu, dan alangkah cepatnya teriak kesakitan itu berubah menjadi teriak suka cita.
Manusia, hewan, burung, ikan, ulat, serangga, rumput dan pepohonan, semuanya
berdesakan memenuhi permukaan bumi ini dengan kehidupan dan makhluk hidup.
Sedangkan kematian bersembunyi disudut sana, menerkam mangsanya dan berlalu…
atau menantikan sisa makanan yang jatuh dari meja makan kehidupan untuk
dimangsanya.
Matahari terbit dan terbenam, bumi berputar-putar di porosnya, sementara
kehidupan mereka disana-sini. Segala sesuatu berkembang, berkembang dalam ragam dan
macamnya, berkembang dalam kualitas dan kuantitasnya. Kalau sekiranya kematian itu
mampu melakukan sesuatu, pastilah kafilah kehidupan ini akan terhenti. Ternyata ia
hanya suatu kekuatan kecil dan letih, disamping kekuatan kehidupan yang meluap-luap,
bergejolak dan riuh gemuruh.
Bersumber dari kekuatan Allah yang Maha Hidup, kehidupan itu merekah dan
menyebar…
Resep Panjang Umur
Pada waktu kita hidup untuk diri kita sendiri, nampaklah kehidupan ini seolaholah
singkat dan sangat pendek. Dimulai sejak kita sadar, dan diakhiri dengan kepergian
usia kita yang begitu pendek itu.

Namun, manakala kita hidup untuk yang selain diri kita sendiri, yakni ketika
hidup demi sebuah idealisme, maka terlihatlah kehidupan yang panjang dan terbentang
luas sekali. Dimulai sejak awal kemanusiaan, dan berlanjut terus sampai pun kita
meninggalkan permukaan bumi ini.
Sudah tentu, dalam keadaan seperti itu, kita memperoleh laba yang berlipat ganda
dari usia diri kita sendiri. Ya, kita memperolehnya sebagai laba hakiki, bukan semu. Dan
melukiskan kehidupan dengan pola demikian, akan melipatgandakan perasaan kita, harihari
kita dan waktu-waktu kita. Memanglah ukuran waktu kehidupan itu bukan dengan
bilangan tahun, akan tetapi dengan bilangan perasaan. Para penganut faham faktualisme
menganggap ungkapan itu sebagai khayal belaka, padahal kenyataannya ia lebih hakiki
dari semua yang mereka anggap hakiki. Sesungguhnyalah gambaran kehidupan itu tidak
lain kecuali perasaan manusia itu sendiri tentang kehidupan.
Menanggalkan manusia mana saja dari perasaan hidupnya sama halnya seperti
menanggalkan manusia tersebut dari kehidupannya sendiri, dalam arti yang hakiki.
Apabila manusia itu telah dapat melipatgandakan perasaannya dengan kehidupannya,
maka ia benar-benar telah berhasil melipatgandakan kehidupannya.
Nampaknya penyempitan arti kehidupan itu bagiku merupakan suatu kedzaliman,
sehingga tidak perlu dipermasalahkan lagi.
Kita telah memberikan kehidupan berlipat ganda kepada diri kita, apabila kita
hidup untuk orang lain. Dan besarnya pelipatgandaan tersebut sebanding dengan kadar
perasaan kita yang kita berikan kepada yang lain itu. Kita lipatgandakan dulu perasaan
kita dengan kehidupan kita dan kemudian melipatgandakn kehidupan itu sendiri.
Bibit-Bibit Kebajikan
Bibit kejahatan bergejolak, akan tetapi bibit kebajikan berbuah. Bibit yang pertama
dengan cepat menjulang tinggi ke awan, namun akarnya tidak menghujam jauh ke dalam
bumi, karena tingginya itu, seolah-olah ia mampu menghalangi cahaya dan hembusan
udara untuk mencapai pohon kebajikan. Akan tetapi, pohon kebajikan itu terus saja
tumbuh dan berkembang, meskipun lamban, karena kedalaman akarnya menghhujam ke
bumi mampu menggantikan kehangatan cahaya dan kesejukan udara yang terhalangi
tadi.
Padahal, apabila kita mengabaikan penampilan palsu yang menggiurkan dari
pohon kejahatan, lalu meneliti seberapa jauh kekuatan dan ketangguhannya yang hakiki,
nampaklah pada kita kelemahannya, kerapuhannya dan kemudahannya untuk diporakporandakan,
karena pada dasarnya ia tidak mempunyai kekuatan yang hakiki. Sementara
itu berbagai ujian yang menerpa pohon kebajikan, membuatnya semakin tangguh,
sanggup bertahan menghadapi taufan, dan terus saja tumbuh dengan tenang walau
lamban, tidak mempedulikan berbagai rintangan buruk dan berduri yang dipasang oleh
pohon kejahatan.
Lapang Dada dan Kasih Sayang
Ketika kita menyentuh sisi-sisi yang baik dalam jiwa manusia, kta akan melihat
banyak sekali titik-titik kebajikan, meskipun pada pandangan pertama tidak mudah
terlihat.
Sudah kucoba hal demikian, aku sudah mencobanya sendiri terhadap banyak
orang, tidak terkecuali kepada mereka yang pada mulanya terlihat jahat dan miskin
perasaan.

Berikan mereka sedikit kasih sayang atas kesalahan dan kelalaiannya. Sedikit
perhatian, bukan yang dibuat-buat atau basa-basi, terhadap suka dukanya. Apabila yang
anda berikan kepada mereka tadi berasal dari lubuk hatimu, dan kamu berikan secara
jujur, tulus hati dan ikhlas, niscaya akan kamu temukan sumber kebajikan dalam lubuk
hati mereka, yakni manakala mereka memberikan cinta, kasih sayang dan kepercayaan
kepadamu, sebagai imbalan terhadap apa yang pernah kamu berikan kepada mereka
(yang walaupun kecil tetapi benar-benar tumbuh dari lubuh hatimu).
Sungguh, kejahatan itu tidak bersarang jauh dalam hati manusia, seperti yang
kadang-kadang terbang dalam benak kita. Ia terdapat dalam kulit yang keras, yang
mereka jadikan tameng dalam perjuangan gigih dalam mempertahankan hidup. Kalau
mereka sudah merasa aman, kulit keras itu akan terbuka dengan sendirinya, dan
tampaklah buah yang bersembunyi di dalamnya, yang rasanya lezat dan manis. Buah
yang manis itu hanya akan membukakan kulitnya kepada siapa yang mampu
meyakinkannya, yang bisa memberikan rasa keamanan hidup kepadanya, bisa
memberikan kasih sayang yang tulus dan ikhlas, kasih sayang yang hakiki dalam
perjuangan mereka, dalam duka cita mereka, dan juga dalam memaafkan kesalahan serta
kealpaan mereka.
Ya, sedikit kelapangan dada saja, sudah menjamin tercapai semuanya itu, lebih
dekat dari apa yang dibayangkan oleh sebagian besar orang. Aku sudah mencoba yang
demikian, mencobanya sendiri. Aku berbicara tidak sekedar berbicara, semata-mata katakata
bersayap atau hasil impian dan khayal!
Tumbuhkan Cinta agar Tentram
Apabila benih-benih cinta, kasih sayang dan kebajikan, sudah mulai bersemi dalam
diri kita, samalah dengan kita membebaskan diri dari berbagai beban dan macam-macam
penderitaan. Kita tidak perlu lagi menjilat-jilat atau merendah-rendah, karena pada saat
itu kita benar-benar melakukan suatu kejujuran dan keikhlasan, karena kita ingin
menggali perbendaharaan kebajikan yang tersimpan dalam jiwa mereka dan menemukan
ciri-ciri kebaikan yang tersembunyi dalam lubuk hati mereka. Apabila kita memuji dan
mengungkapkan mutu manikam kebajikan yang tersimpan dalam lubuk hati mereka,
dan semua itu kita lakukan dengan penuh kejujuran. Dan memanglah tidak seorang
manusia pun yang layak mendapat pujian. Akan tetapi kita tidak akan melihatnya,
kecuali apabila bibit-bibit cinta sudah bersemi dalam lubuk hati kita.
Begitu juga kita tidak perlu lagi memaksa diri menanggung duka karena ulah
mereka, dan bahkan tidak usah menanggung beban kesabaran atas kesalahan dan
kealpaan mereka. Kita bertekad akan menaburkan rasa kasih sayang pada titik-titik lemah
mereka, tanpa sedikitpun terselip niat mengusut dan menghakiminya, hanya apabila
benih-benih cinta sudah bersemi dalam jiwa kita. Dalam keadaan demikian, kita tidak
akan membebani diri kita dengan lelahnya kedengkian terhadap mereka, atau dengan
beban pengawasan kepada mereka. Sebenarnya kita dengki kepada orang lain, karena
benih-benih kebajikan tidak tumbuh dengan baik dan sempurna dalam jiwa kita, dan
kita selalu khawatir terhadap mereka, karena unsur kepercayaan dalam kebajikan masih
kurang dalam lubuk hati kita.
Betapa besar ketenangan, kesenangan dan kebahagiaan yang kita berikan kepada
diri kita, ketika kita memberikan kasih sayang, cinta dan kepercayaan kita kepada orang
lain, ketika bibit-bibit cinta, kasih sayang akan kebajikan tumbuh dengan suburnya
dalam jiwa kita.
Antara Pedagang dan Pemikir

Ketika kita memencilkan diri kita dari masyarakat karena kita merasa lebih bersih
jiwanya, lebih suci hatinya, lebih luas wawasannya, atau lebih cerdik akalnya dari mereka,
pada saat itulah kita tidak melakukan sesuatu yang berarti, karena kita telah memilij
untuk diri kita jalan pintas yang paling sedikit resikonya.
Apabila kita sampai pada tingkat kekuatan tertentu, kita sudah mulai merasa tidak
ada salahnya minta bantuan orang lain, meskipun sudah mulai merasa tidak ada salahnya
minta bantuan orang lain, meskipun orang tersebut lebih rendah kekuatannya dari kita.
Bantuan orang lain kepada kita itu sebenarnya tidak menurunkan nilai kehormatan,
kendatipun kita berusaha keras akan menciptakan segala-galanya dengan kekuatan
sendiri, dan merasa angkuh meminta bantuan orang lain. Atau justru sebaliknya, kita
memasukkan jerih payah mereka ke dalam jerih payah kita, karena kita merasa kurang
sedap apabila ada orang yang tahu, bahwa berkat bantuan itu kita bisa mencapai
kedudukan puncak.
Kita melakukan semuanya itu ketika kepercayaan kepada diri kita tidak besar,
yakni ketika kita benar-benar dalam keadaan lemah dalam berbagai segi. Namun ketika
kita dalam keadaan kuat benar, kita tidak akan merasakan hal itu semua. Perhatikanlah
anak kecil yang berjalan dengan anda, ia selalu berusaha kerasa menyingkirkan tangan
anda yang hendak melindunginya, karena ia ingin membuktikan kemampuannya
berjalan sendiri.
Ketika kita sampai pada kekuatan tertentu, kita akan sambut bantuan orang lain
itu dengan semangat terimakasih dan sukacita. Terimakasih atas bantuan yang diberikan,
dan suka cita karena masih ada orang yang seiman dengan yang kita imani. Maka ia pun
akhirnya berperan serta bersama kita dengan segala macam resiko yang mungkin. Suka
cita karena sambutan dan pertemuan perasaan itu merupakan suka-cita yang tulus dan
bebas.
Kasus lain kita berusaha “memonopoli” ide dan aqidah kita. Kita gusar apabila ada
orang lain yang menganutnya. Kita juga keras meyakinkan orang bahwa ia milik kita dan
bahwa orang itu merebutnya dari kita. Sesungguhnya tindak-tanduk semua itu kita
lakukan, pada waktu keimanan kita terhadap ide dan aqidah itu sedang rapuh, ia tidak
keluar dari hati nurani kita, seperti juga ia tidak muncul ke permukaan tanpa kemauan
kita, dan ketika ide dan aqidah itu bukan merupakah hal yang paling kita cintai lebih dari
diri kita sendiri.
Sebenarnya sukacita yang murni merupakan akibat wajar, karena kita melihat ide
dan aqidah kita menjadi milik orang lain, apalagi kalau itu terjadi ketika kita masih
hidup. Sedang suatu perhitungan saja bahwa ia akan menjadi sesudah kita meninggalkan
permukaan bumi ini, bekal anutan yang memberikan rasa kepuasan kepada orang lain,
sudah cukup meluapkan hati kita dengan suka cita, kebahagiaan dan ketenangan.
Pedagang sajalah yang berusaha keras menjalankan segalanya atas dasar “hubungan
dagang” bagi komoditas mereka supaya jangan dieksploitasi orang lain, dan supaya hak
dari laba mereka jangan jatuh ke pihak lain. Namun bagi para pemikir dan penyandang
aqidah, kebahagiaan mereka justru terletak pada saat orang banyak bisa menikmati
pikiran dan aqidahnya. Kedua hal ini diimaninya dan kemudian dinyatakan sebagai milik
mereka juga, bukan milik orang yang pertama saja.
Mereka tidak mempunyai rasa bahwa merekalah “pemilik” ide dan aqidah itu.
Mereka hany menyatakan sebagai “penghubung” dalam memindahkan dan
menterjemahkannya. Mereka merasa bahwa sumber darimana ia ditimba bukan ciptaan
mereka, dan bukan karya tangan mereka. Namun suka-cita tulus mereka, karena mereka
terlibat langsung dengan sumber aslinya.
Bedanya jauh, jauh sekali, bagaikan beda memahami hakikat dan menyadari
hakikat. Yang pertama ilmu, sedangkan yang kedua ma’rifat (pengenalan).

Dalam yang pertama, kita berurusan dengan kata-kata dan arti semata, atau dengan
percobaan yang terbatas. Sedangkan dalam yang kedua kita berurusan dengan sambutan
hidup dan kesempurnaan paripurna serta mutlak.
Dalam yang pertama, pengetahuan itu datang kepada kita dari luar diri, kemudian
ia datang dalam akal kita, tetapi terpisah dari diri dan nurani kita. Sedangkan dalam yang
kedua, hakikat itu muncul dari kedalaman batin kita. Ia mengalirkan darah yang
dialirkan oleh urat nadi dan jaringan tubuh kita, yang pancarannya beraturan bersama
dengan detakan jiwa kita.
Dalam yang pertama, terdapat ruibrik dan judul-judul. Rubrik ilmu, lengkap
dengan judul-judul artikel yang aneka rupa. Rubrik agama, dengan judul-judul, pasalpasal
dan bab-banya. Begitupula rubrik seni, dibawahnya terdapat judul-judul, metode
dan lengkap dengan arah tujuannya. Sedangkan dalam hal yang kedua, terdapat kekuatan
tunggal berhubungan dengan kekuatan alam raya ini, disana terdapat banyak anak sungai
yang mengalir, yang bersumber dari satu mata air yang murni.
Keyakinan Orang-Orang Kerdil
Kita sangat membutuhkan para ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan
kemanusiaan, yang menjadikan laboratorium dan tempat kerja mereka sebagai kuil dan
biara. Mereka mengobarkan semangat penelitiannya dalam bidang ilmu yang
ditekuninya, bukan dengan rasa pengorbanan saja, tetapi juga menikmatinya. Ibarat
perasaan seorang pengabdi yang mengobarkan semangat pengabdian kepada Rabbnya
dengan penuh kepuasan dan kegembiraan.
Namun kita harus senantiasa menyadari bahwa bukan dipundak para spesialis
tersebut yang mengarahkan kita kepada kehidupan ini atau yang akan menentukan jalan
bagi ummat manusia.
Mereka, para pelopor itu adalah figur-figur yang senantiasa menjadi pemilik
kekuatan ruhani yang agung. Mereka senantiasa merupakan pembawa obor yang akan
terbakar dalam panasnya atom-atom ilmu pengetahuan, dan dengan sinarnya itulah akan
melihat jalur jalan. Mereka dibekali dengan berbagai bagian dari obor ini, dan menjadi
kuat dengan bekal itu. Tetapi perjalanan dia tidak hanya sampai disitu, ia terus saja
menggiatkan perjalanannya menuju tujuan mulia nan jauh disana.
Hanya kejelian pandangan pelopor itulah yang mampu menyadari adanya kesatuan
parpurna, dari aneka ragam penampilan seperti ilmu, aqidah, seni dan teknologi. Mereka
tidak menggali salah satu dari padanya dan tidak juga mengangkat sebagian diatas
sebagain yang lainnya.
Hanya orang-orang kerdil saja, yang berkeyakinan bahwa diantara berbagai
kekuatan yang punya aneka ragam penampilan itu terdapat pertentangan-pertentangan.
Kemudian mereka memerangi ilmu dengan nama agama, atau memerangi agama atas
nama ilmu.
Mereka mencemooh seni dengan “teknologi”, atau memerangi vitalitas hidup yang
berkobar-kobar dengan aqidah yang bersifat sufisme, karena mereka menganggap bahwa
semua kekuatan tersebut, satu sama lain saling terpisah, bukan dari satu sumber kekuatan
tunggal yaitu kekuatan raksasa yang menguasai alam raya ini. Namun tidak demikian
dengan para pelopor besar, mereka menyadari kesatuan itu, karena mereka senantiasa
berhubungan dengan sumber yang murni itu dan dari sana mereka selalu mendapatkan
alirannya.
Manusia jenis ini sedikit sekali, sedikit sekali dalam sejarah kemanusiaan… bahkan
jarang sekali. Namun jumlah tersebut dapat dikatakan cukup, karena kekuatan yang
mengawasi alam raya inilah yang menyiapkan mereka, dan mengirimkan mereka pada
waktu dan tempat yang dibutuhkan.

Mengakui yang Ghaib
Sama dengan Menghormati Akal
Menyerah mutlak kepada kekuatan ghaib adalah berbahaya sekali, karena hal ini
bisa menggiring kita kepada khurafat dan merubah kehidupan ini menjadi khayalan
besar.
Namun, memungkirinya secara mutlak, juga tidak kurang bahayanya karena ia
menutup semua pintu yang ghaib, dan memungkiri semua yang tidak bisa diindera.
Padahal ini bukan disebabkan apa-apa, kecuali karena kekuatan yang ghaib tersebut
dalam saat-saat tertentu dari kehidupan kita, jauh lebih besar dari kesadaran manusiawi.
Dan dengan sendirinya mengecilkan arti kehidupan dari alam ini –jarak, kekuatan, dan
juga nilainya, semuanya dibatasi oleh batasan-batasan yang diketahui saja, padahal hingga
detik ini apabila hal-hal yang bisa diinderakan tersebut diukur dengan kebesaran alam
raya ini- sangat kecil, sangat kecil.
Sesungguhnya kehidupan manusia di permukaan bumi ini adalah rangkaian dari
kelemahan-kelemahan dalam menyadari kekuatan alami, atau merupakan untaian
kekuatan dalam menyadari kekuatan alami, atau merupakan untaian kekuatan dalam
menyadari kekuatan alami, atau merupakan untaian kekuatan dalam menyadari kekuatan
tersebut, setiap kali ia meningkat dewasa dan maju selangkah ke depan dalam
perjalanannya yang panjang.
Sesungguhnya kekuatan manusia dari waktu ke waktu, dalam memahami salah satu
kekuatan alam yang semula tidak diketahuinya sejak ia berada diatas jangkauan
pemahamannya pada waktu tertentu, sudah cukup untuk bisa membuka mata hatinya,
bahwa disana masih terdapat banyak kekuatan lainnya yang belum bisa dijangkau oleh
pemahamannya karena ia masih dalam tahap percobaan.
Adalah suatu penghormatan terhadap akal kemanusiaan sendiri, apabila kita
menaruh terhadap yang ghaib dalam kehidupan kita, bukan untuk memasrahkan
kehidupan kita kepadanya seperti halnya orang–orang yang hanyut terbawa oleh khayal
dan khurafat, namun supaya kita senantiasa merasakan keagungan alam ini sesuai dengan
hakikatnya, dan supaya kita mengenali kedudukan diri kita dalam alam raya ini. Hal itu
tentu akan membuka kesempatan kepada semangat kemanusiaan mengungkapkan
banyak kekuatan untuk diketahui, untuk diresapi dengan berbagai jaringan yang
mengikat kita dengan alam raya itu dari kedalaman batin kita, hal mana tentu lebih besar
dan lebih dalam dari semua yang kita capai dengan akal kita hingga hari ini. Buktinya,
kita setiap hari masih saja menemukan hal-hal baru yang semula ghaib bagi kita, dan kita
hingga saat ini masih hidup.
Mengakui Keagungan Allah
Menambah Keagungan Diri
Sementara orang di zaman kita ini ada yang berpendapat, bahwa “mengakui
kagungan Allah secara mutlak berarti memicingkan mata terhadap nilai kemanusiaan,
dan merendahkan kesanggupannya dalam alam ini”, seolah-olah Allah dan manusia itu
suatu kekuatan yang sebanding yang sedang bersaing berebut keagungan dan kekuatan
dalam alam ini.
Menurut saya, apabila setiap kali perasaan kita diliputi keagungan Allah yang
mutlak, maka setiap itu pula kita menambah dalam diri kita keagungan, karena kita
ciptaan Rabb yang Maha Agung itu.

Sungguh orang yang mengira bahwa mereka telah mengangkat dirinya, ketika
mereka merendahkan Rabb dalam benak mereka, atau ketika mereka memungkiriNya,
sesungguhnya merekalah orang-orang yang terbatas, yang tidak mampu melihat kecuali
ufuq yang rendah lagi dangkal.
Mereka mengira bahwa manusia itu mendekatkan diri kepada Allah hanya pada
waktu lemah dan tidak berdaya. Sedangkan pada waktu ia kuat, ia tidak membutuhkan
Tuhan lagi. Seolah-olah kelemahan itu membuka mata hatinya, sedangkan kekuatan
menutupnya.
Selayaknya, setiap kekuatan manusia bertambah setiap itu pula pengakuan akan
keagungan Allah yang Maha Mutlak juga bertambah, karena setiap kali daya jangkaunya
bertambah setiap itu pula ia menyadari darimana sumber kekuatan itu.
Sungguh, orang yang mengimani keagungan Allah yang mutlak itu, tidak akan
menemukan dalam dirinya kerendahan dan kelemahan, bahkan kebalikan dari itu ia akan
menemukan dalam dirinya keagungan dan ketegaran karena menyandarkan kepada
kekuatan yang besar yaitu yang menguasai alam raya ini. Ia mengetahui bahwa lapangan
keagungannya hanyalah di permukaan bumi dan diantara kumpulan manusia. Hal itu
tidak akan bertumbukan dengan keagungan Allah yang mutlak dalam alam raya ini. Ia
memiliki simpanan keagungan dan kemuliaan dengan keimanannya secara mendalam,
dan tidak akan ditemukan oleh orang yang meniup dirinya seperti bakon, hingga
bengkak yang ditiupnya itu menutupi matanya melihat ufuq alam raya ini.
Ide Haruslah Hidup di Bumi
Dalam Gambaran Diri Manusia
Sering sekali peribadatan bersembunyi dalam busana ketulushatian tanpa pamrih
apapun, walau sebenarnya ia berangkat dari semu ikatan, berangkat dari tradisi, dan
berangkat dari aneka beban tanggung-jawab kemanusiaan dalam alam raya ini.
Itu namanya ketulushatian berkedok, karena yang demikian itu pada hakikatnya
merupakan ketundukan dan peribadatan seperti layaknya kecenderungan hewani, suatu
kecenderungan yang oleh ummat manusia sepanjang usianya diperangi, menuju ke alam
kebebasan manusia yang sebenarnya. Sesungguhnya prinsip atau ide dasarnya –tanpa
suatu aqidah pendorong- hanyalah rangkaian kata-kata kosong atau paling sekedar arti
yang mati. Suatu prinsip atau ide yang tumbuh dari dalam pikiran yang dingin atau dari
dalam hati yang tidak memancarkan cahaya. Dan tiada lain yang memberikan kehidupan
ini kecuali kehangatan keimanan yang memancar dari hati manusia.
Anda terlebih dahulu iman kepada ide anda itu, dengan tingkat keimanan yang
mencapai puncak aqidah yang hangat, dan pada saat itu juga orang lain akan beriman.
Kalau tidak demikian, ide tersebut hanya akan berupa kata-kata yang kosong dari ruh
dan kehidupan.
Tidak mungkin ide akan hidup tanpa menjelma dalam ruh manusia, dan menjadi
makhluk hidup yang berjalan di permukaan bumi dalam wujud manusia. Begitupula
tidak akan ada orang –dalam lapangan ini- hidup tanpa membangun hatinya dengan ide
yang diimani dengan penuh keimanan dan keikhlasan.
Sebenarnya pemisahan ide dan pribadi seperti pemisahan antara ruh dan jasad, atau
antara kata-kata dengan maknanya, suatu pekerjaan dalam beberapa waktu terbilang
mustahil, dan dalam beberapa waktu juga berarti penghalalan sekaligus pemusnahan.
Semua ini sebenarnya hidup dengan memamah hati manusia. Dan apabila ada ideide
yang tidak mencicipi makanan suci ini, ia telah dilahirkan mati dan tidak pernah
mendorong kemanusiaan ke depan walau sejengkal pun.

Tujuan Menghalalkan Cara ?
Sulit sekali rasanya aku akan membayangkan bagaimana mungkin kita akan
mencapai tujuan mulia dengan menggunakan cara hina. Sungguh tujuan yang mulia
tidak bisa hidup kecuali dalam hati yang mulia. Lalu bagaimana mungkin hati yang
mulia itu akan sanggup menggunakan cara yang hina? Dan lebih jauh dari itu bagaimana
mungkin ia menemukan cara yang hina itu?
Ketika kita akan mengarungi telaga berlumpur ketepi sana, pastilah kita akan
mencapai pantai dengan berlumuran lumpur pula. Lumpur-lumpur jalanan itu akan
meninggalkan bekas pada kaki kita, dan pada jejak keki kita. Begitu pula kalau kita
menggunakan cara hina, najis-najis itu akan menempel pada ruh kita, akan membekas
pada ruh itu dan pada tujuan yang telah kita capai juga.
Sebenarnya cara dalam ukuran ruh, merupakan bagian dari tujuan. Dalam alam
ruh, tidak ditemukan perbedaan dan pemisahan antara keduanya. Hanya perasaaan
manusiawi sajalah yang tidak akan sanggup menggunakan cara hina untuk mencapai
tujuan yang mulia. Dan dengan sendirinya pula ia akan terhindar dari teori “tujuan
menghalalkan cara”.
Teori itu merupakan hikmah terbesar bangsa Barat, karena bangsa Barat itu hidup
dengan akalnya, dan dalam keadaan demikianlah ditemukan perbedaan dan pembagian
antara cara dan tujuan.
Kepuasan Ruhani
Berkat pengalaman, akhirnya aku mengetahui bahwa tidak ada sesuatu apapun
dalam kehidupan ini yang menyamai kepuasan ruhani yang murni, yang kita temuykan
ketika kita bisa memberikan hiburan, kepuasan, kepercayaan, harapan atau kegembiraan
kepada orang lain.
Suatu kelezatan samawi yang menakjubkan, yang tidak ada hubungannya dengan
bumi ini. Suatu gema unsur samawi yang murni dalam watak kita, ia tidak menuntut
balas jasa dari luar, karena balasannya sudah ada dalam karyanya.
Ada suatu masalah lain dalam soal ini yang sering dipergunjingkan oleh sebagian
orang, padahal sebenarnya ia ada hubungannya dengan soal tersebut, yaitu pengakuan
orang pada jasa baiknya.
Aku tidak memungkiri bahwa pengakuan itu memiliki keindahan tersendiri, belum
lagi suka cita besar yang dirasakan oleh pemberinya, namun ia merupakan persoalan lain.
Masalahnya disini, masalah kepuasan, bahwa kebajikan yang dilakukan itu mendapat
respon yang jelas dan dekat dalam jiwa orang lain. Namun kepuasan hati akibat
pengakuan tersebut nilainya jelas tidak sama dengan suka cita dan rasa bahagia yang
timbul seketika pada waktu kita dapat memberikan hiburan, kepuasan, kepercayaan,
harapan atau kegembiraan kepada orang lain. Suatu keharusan yang murni dan ikhlas,
yang bersumber dari jiwa kita dan kembali kepadanya, tidak memerlukan unsur-unsur
luar diri kita. Ia telah menyandang ganjaran secukupnya, karena ganjarannya itu sudah
ada di dalamnya.
Aku Tidak Takut Mati
Karena Sudah Memberi
Aku tidak lagi takut terhadap kematian, meskipun ia datang mendadak. Aku sudah
mengambil banyak dari kehidupan ini, yakni “sudah memberi”.

Adakalanya kamu sulit membedakan antara pengambilan dan pemberian, karena
keduanya memberikan pengertian dalam satu alam ruhani. Setiap kali aku memberi,
setiap itu pula aku sudah mengambil. Ini bukan berarti ada seseorang yang memberikan
sesuatu kepadaku, tetapi maksudku, adalah bahwa aku telah mengambil imbalan atas apa
yang aku berikan, karena kepuasan dan kegembiraan yang kudapatkan dengan pemberian
itu tidak kurang dari kepuasan dan kegembiraan yang mereka dapatkan.
Aku tidak lagi takut pada kematian, meskipun ia datang seketika. Aku sudah
berbuat sekuat apa yang aku bisa lakukan. Memang masih banyak hal-hal lainnya yang
ingin aku lakukan, kalau aku diberi usia panjang, namun aku juga tidak bersedih hati
kalau akau tidak dapat melakukannya. Orang-orang lain akan meneruskan perjuangan
ini. Ia tidak akan mati, selama ia masih baik untuk hidup, dan aku percaya bahwa
pengayom yang senantiasa mengamati kelestarian alam semesta ini tidak akan
membiarkan ide yang baik itu mati.
Aku tidak lagi takut atas kematian, meskipun ia datang tiba-tiba. Aku sudah
berusaha sekuat-kuatnya berlaku baik, sedangkan terhadap kesalahan dan kealpaanku,
aku menyatakan penyesalan yang sangat mendalam.
Aku pasrahkan segalanya kepada Allah SWT, dan aku senantiasa mengharapkan
rahmat dan ampunanNya. Adapun tentang hukuman dan siksaanNya, aku tidak resah
dan gelisah karenanya. Aku yakin bahwa hukuman itu tepat dan ganjaran itu adil, dan
aku sudah membiasakan diri menanggung resiko atas amal perbuatanku, baik itu bajikan
maupun keburukan. Maka sudah barang tentu aku akan menanggung hukuman atas
kesalahanku itu di pengadilan Yahumal Hisab…

WANITA DALAM AL-QUR'AN

ita memuji Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk
junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya,
serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Ikhwan tercinta, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam
penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi: assalamu 'alaikum
wa rahmatullah wa barakatuh.
Ikhwan tercinta, tema kajian kita pada malam ini adalah "Wanita
dalam Al-Qur'anul Karim."
Kita telah memulai serial kajian kita tentang kandungan Al-Qur'anul
Karim. Kajian serial ini telah berlangsung lama. Memang, wajar saja ia
berlangsung lama, karena kandungan kitab Allah ini secara keseluruhan
adalah kebaikan semata. Orang yang membaca kitab Allah swt. pasti
merasa seakan-akan berada dalam kebun-kebun yang penuh dengan
buah-buahan yang dapat dipetiknya. Mengenai hal ini, Ikhwan sekalian,
saya terkesan oleh ucapan Sayidina Abdullah bin Mas'ud, "Jika kamu
membaca Al-Qur'an 'Alif ~Lam, Haa Miim', seakan-akan kamu mampir
di kebun-kebun yang dipenuhi berbagai buah-buahan."
Kitab Allah swt. dengan gayanya yang khas dan indah, memiliki
komposisi unik yang tidak mungkin dapat ditemukan kecuali padanya.
Logika yang cermat dalam bentuk ungkapan yang paling indah digunakan
untuk membahas tema-tema yang paling remeh sekalipun. Seakanakan
seseorang berada di salah satu koleksi logika yang paling kuat.
Ikhwan, sesungguhnya barangsiapa membaca sejarah bangsabangsa,
niscaya menemukan bahwa manusia itu mempunyai pandangan
yang berbeda-beda terhadap wanita. Perbedaan itu sampai pada kategori
mengundang keheranan. Ia akan menemukan bahwa sebagian dari
mereka, misalnya, ada yang menganggap bahwa wanita adalah budak.
Ada yang menganggapnya sebagai sampah, dan ada pula sebagian
kelompok yang tidak memandang wanita selain sebagai hiburan dan
permainan. Hal itu masih berlaku, bahkan dalam pandangan bangsabangsa
modern yang mengklaim bahwa kebanggaan terbesarnya adalah
penghormatan terhadap martabat wanita, kebangkitan kaum wanita,
dan penyempurnaan hak-hak kaum wanita. Di kalangan bangsa-bangsa
ini sendiri, wanita dan kedudukan wanita tidak mencapai tingkat yang
menjadikannya dapat memperoleh hak atau menempati posisinya secara
benar.
Anda mungkin heran, Saudara-saudara, bahwa masyarakat Arab
memiliki pandangan dan penilaian yang campur aduk tentang wanita.
Suatu kali di mana masih terdapat beberapa kabilah Arab, mereka menganggap
wanita sebagai manusia yang mempunyai hak sebagaimana
manusia lain, sehingga mereka kadang-kadang mengambil pendapatnya
dan kadang-kadang memberinya kebebasan memilih.
Ada beberapa contoh mengenai hal itu. Syamas bin La'iy, seorang
pemuka salah satu kabilah Arab, pernah dicela dengan keras oleh
seorang penyair. Ketika penyair tersebut berhasil ditangkapnya, ia ingin
membunuhnya. Ia menemui ibunya dengan muka berseri-seri. Ibunya
berkata, "Aku melihat di wajahmu tergambar tanda-tanda kegembiraan."
Ia menjawab, "Benar Ibu. Saya telah berhasil menangkap penyair
yang telah mencelaku." "Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya. Ia
menjawab, "Tentu saja, saya akan membunuhnya." Ibunya berkata,
"Di manakah kearifan dan kepintaranmu, wahai putra La'iy^? Seorang
penyair berkata tentang dirimu, sedangkan perkataannya tersebar di
tengah-tengah masyarakat, lantas siapakah yang kau anggap dapat
menghapuskan celaannya ini?" "Jika tidak demikian, lalu apa yang harus
saya lakukan?" tanyanya. Ibunya menasihati, "Perlakukan dia dengan
penuh hormat, wahai Syamas. Perlakukanlah dia dengan baik, lantas
biarkanlah dia sendiri yang menghapus celaan yang pernah dilontarkan
kepadamu. Jika tidak demikian, maka tidak akan ada orang yang dapat
menghapuskan celaannya yang telah melekat padamu selama-lamanya."
Syamas bin La'iy benar-benar melaksanakan pesan ibunya dan
mengikuti sarannya. Padahal ia hanyalah seorang wanita.
Ikhwanku, saya katakan, di saat wanita pada sebagian kabilah
diperlakukan demikian, beberapa kabilah yang lain justru mempunyai
kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup dan memingit wanita
di rumah dengan peraturan yang ketat dan keras. Tatanan bangsa Arab
dalam memandang wanita dan kedudukannya mempunyai beberapa
keragaman.
Karena itu, sungguh mengagumkan, ternyata Al-Qur'an mendatangkan
pandangan yang merupakan puncak ketinggian dan penghargaan
terhadap status sosial wanita. Pandangan tersebut meletakkan masalah
secara proporsional dan membahasnya dengan berani dan kokoh.
PRINSIP-PRINSIP TEORITIS
Ikhwan sekalian, masalah ini adalah masalah kemanusiaan yang
paling penting, dibahas oleh Al-Qur'anul Karim dengan pembahasan
yang penuh keyakinan, kejelasan, keberanian, dan kebenaran.
Allah swt. berfirman, "Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhan
kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, dan dari padanya
Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan
laki-laki dan wanita yang banyak. Maka bertaqwalah kepada
Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain
dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu
menjaga dan mengawasi kalian." (An-Nisa': 1)
Ayat yang mulia ini, Saudara-saudara, mengisahkan kepada kita
dengan jelas sekali bahwa asal-usul seluruh manusia adalah satu.
Seluruh manusia berasal dari satu orang. Kemudian dari satu orang ini,
Allah menciptakan istrinya. Laki-laki dan wanita mempunyai asal-usul
dari satu orang. Dari sini, wahai Akhi, Anda menemukan bahwa Islam
telah meletakkan permasalahan ini di atas satu prinsip. Wanita dan
laki-laki bermula dari asal yang sama dan dari bahan baku yang sama.
"Sebagian dari kalian merupakan bagian dari yang lain." Prinsip dalam
masalah ini adalah persamaan.
Dalam surat Asy-Syura, Allah swt. berfirman, "Dia memberikan
anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan
anak-anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau
Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada
siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang
Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa."
(Asy-Syura: 49-50)
Jadi, wahai Akhi, Anda menemukan bahwa Allah swt. mendahulukan
penyebutan anak-anak perempuan dalam firman-Nya, dan
menyebutnya sebagai anugerah yang diberikan kepada siapa yang Allah
kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Allah juga menyebut anakanak
laki-laki sebagai anugerah yang diberikan kepada siapa yang Allah
kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Sama saja, apa-kah anak yang
dimiliki seseorang itu perempuan semua atau laki-laki semua, ataukah
perempuan dan laki-laki, maka itu merupakan karunia dan anugerah
Allah. Jika kita memperhatikan urutan penyebutan antara perempuan
dan laki-laki, Anda mendapati bahwa ayat tersebut permulaannya
dengan menyebut perempuan. Hal ini untuk menghilangkan syubhat
yang menganggap kekurangan pada perempuan.
Dalam ayat ketiga, Allah swt. berfirman, "Sebagian dari kamu merupakan
bagian dari yang lain." Persamaan tidak berhenti pada kandungan
secara umum ini, tetapi lebih dari itu juga termasuk dalam persoalan
hukum. Wahai Akhi, Anda menemukan ayat yang mulia mengatakan,
"(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong
dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan
kejahatan, niscaya akan diberi pem-balasan dengan kejahatan
itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya
selain dari Allah. Barangsiapa mengerjakan amal-amal shalih, baik lakilaki
maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu
masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun."
(An-Nisa: 123-124)
Di sini Anda menemukan bahwa Allah Yang Mahabenar swt. telah
menegaskan bahwa asal-usul pria dan wanita adalah satu sumber, dan
nilai umum dalam penghitungan dan pembebanan adalah satu pula. Di
tempat lain, wahai Akhi, Anda mendengar firman Allah swt., "Di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istriistri
dari jenis kalian sendiri, agar kalian cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa cinta dan kasih
sayang." (Ar-Rum: 21)
Jika kita perhatikan ayat ini, wahai Akhi, niscaya kita mendapati
bahwa kecenderungan dan perasaan tenteram antara pria dan wanita
ditegaskan di sana. Di tempat lain Allah swt. berfirman, "Dialah yang
menciptakan kalian dari satu jiwa, dan dari jiwa itu Dia menjadikan
istrinya agar ia merasa tenteram kepadanya." (Al-A'raf: 189)
Ketenteraman, ketenangan, dan perlindungan. Itulah kata-kata yang
paling tepat untuk menggambarkan hubungan antara pria dan wanita.
Seorang wanita, wahai Akhi, berlindung kepada suaminya untuk memperoleh
kekuatan dan kehidupan, sedangkan pria berlindung kepada
istrinya untuk memperoleh kecintaan dan kehidupan. Al-Qur'anul Karim
menegaskan hal ini dengan ungkapan yang paling tinggi nilainya, dan
menegaskan bahwa hal ini adalah salah satu tanda kekuasaan Allah
serta salah satu nikmat dan karunia-Nya. "Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari
jenis kalian sendiri, agar kalian merasa cenderung dan tenteram kepadanya.
Dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa rasa cinta dan kasih
sayang." (Ar-Ruum: 21)
Dengan prinsip-prinsip teoritis ini, kita mendapatkan bahwa Al-
Qur'anul Karim telah menghapus mitos-mitos berbagai bangsa terdahulu
yang menyatakan bahwa bahan baku wanita dari tanah yang
berbeda dari bahan baku pria dan bahwa wanita bukan dari jenis pria.
Islam telah menghapuskan dan menghancurkan mitos-mitos ini dengan
setuntas-tuntasnya.
PRAKTEK NYATA
Adapun dari segi prakteknya secara nyata, wahai Akhi, pria adalah
manusia dan wanita adalah manusia juga. Pria mempunyai tugas dan
wanita juga mempunyai tugas. Kita mendapatkan bahwa Allah swt.
telah menegaskan tentang keadaan struktur keluarga. "Mereka (kaum
wanita) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang ma'ruf. Tetapi para suami mem-punyai satu derajat kelebihan
daripada mereka." (Al-Baqarah: 228)
Al-Qur'an menegaskan bahwa keluarga adalah urusan mereka
berdua dan terdiri dari keduanya. Hanya saja, kepemimpinan berada
di tangan suami. "Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita,
oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian lain
dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."
(An-Nisa': 34)
Hal itu, wahai Akhi, lantaran harus ada amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
Pertanyaannya di sini, siapakah yang lebih berhak
menjadi pemimpin, laki-laki atau perempuan? Laki-laki yang kuat,
keras, dan hidup dengan akalnya, ataukah wanita yang lembut dan
hidup dengan emosi, hati, dan perasaannya?
Tidak diragukan bahwa tanggung jawab, beban, dan tugas ini
diserahkan kepada laki-laki. Saudara, inilah pembeda antara Islam dan
peradaban Barat. Dalam masalah ini, wahai Akhi, Anda menemukan
bahwa Islam telah mengikuti hukum tabiat dan logika. Kepemimpinan
di dalamnya berada di tangan laki-laki karena ia lebih mampu melaksanakannya.
Namun ini bukan berarti sikap semena-mena atau zhalim. Di
sini saya teringat tentang sebuah kisah unik tentang Sayidina Abdullah
bin Abas ra. Nafi' pernah melihat beliau memangkas jenggotnya yang
panjangnya melebihi satu genggaman. Maka Nafi' menegurnya, "Takutlah
kepada Allah, takutlah kepada Allah, wahai Ibnu Abbas. Sesungguhnya
orang-orang rela mengendarai unta dari berbagai penjuru jazirah,
datang kepadamu dan bertanya tentang agama dan Al-Qur'an, sedangkan
engkau sendiri berbuat seperti itu." Ibnu Abbas menjawab, "Celaka
kamu, wahai Nafi'. Sungguh, saya ini melaksanakan apa yang diperintahkan
oleh Allah, karena itu saya berdandan untuk istriku sebagaimana
dia berdandan untukku." Nafi' berkata, "Kalau begitu, sebutkan kepadaku
alasannya dari Kitabullah." Beliau berkata, "Dan mereka (istri-istri) itu
mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya, menurut cara
yang ma'ruf."
Namun demikian kita juga mengetahui bahwa berlebihan dalam
berhias itu juga tercela secara syar'i. Demikianlah, wahai Akhi, ketika
Al-Qur'anul Karim menegaskan hak kepemimpinan laki-laki atas
wanita, hal itu tidak berarti mengurangi hak wanita, atau lebih mengutamakan
laki-laki daripadanya. Hak ini semata-mata untuk meletakkan
perkara sesuai dengan proporsinya.
Al-Qur'anul Karim juga menetapkan bahwa kesaksian seorang
wanita sama dengan separoh kesaksian laki-laki. "Dan persaksikanlah
dengan dua orang saksi dari orang lelaki di antaramu. Jika tidak ada
dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan
dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang
lagi mengingatkannya." (Al-Baqarah: 282)
Dalam menetapkan hukum ini, wahai Akhi, Al-Qur'anul Karim
telah menetapkan sesuai dengan komposisi dan karakteristik wanita
yang hidup dengan emosi, hati, dan perasaannya yang halus, yang mudah
terpengaruh oleh sikap kasar. Wanita itu lebih mudah tersentuh
perasaannya dibandingkan dengan pria, dan lebih mudah lupa daripada
lab-laki. Dalam pengadilan-pengadilan Barat, mereka mengatakan,
bahwa orang-orang yang bersumpah, jika di antara mereka ada wanita,
sedangkan kasus yang terjadi itu sangat menyentuh perasaan, maka
wanita-wanita yang bersumpah itu harus meninggalkan ruangan. Mereka
kemudian duduk menangis lantaran kondisi di seputar kasus yang
dikemukakan dan dimintakan keputusannya dari mereka. Tangisan ini
berarti bahwa mereka telah mengeluarkan penilaian dengan nyata,
meskipun prosedur perundang-undangan belum dilaksanakan secara
lengkap.
Wahai Akhi, mudah terpengaruh dan mudah lupa merupakan karakter
yang nyata dan kodrati dari seorang wanita. Karena itu, Allah Yang
Mahabenar swt. menetapkan jaminan dalam kesaksian, "...supaya jika
seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya." (Al-Baqarah: 282)
Wahai Akhi, dari segi pelaksanaan, Anda menemukan bahwa Al-
Qur'anul Karim telah memerintahkan wanita untuk menahan pandangannya
dan memerintahkan pria juga melakukan hal yang sama. "Katakan
kepada kaum pria yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian
dari pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Demikian itu
lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian
pei'buat. Dan katakan kepada kaum wanita yang beriman, hendaklah
mereka menahan sebagian dari pandangan mereka dan menjaga kemaluan
mereka." (An-Nur: 30-31)
Jadi, Allah Yang Mahabenar swt. di samping berwasiat kepada kaum
pria yang beriman dengan wasiat ini, juga berwasiat kepada kaum wanita
yang beriman dengan wasiat yang sama. Namun, karena wanita itu
berposisi sebagai makhluk yang lemah lembut, merupakan salah satu
obyek kenikmatan lelaki, dan keindahan, maka Allah memerintahkannya
agar mengenakan hijab. "Dan janganlah mereka menampakkan
perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya. Hendaklah
mereka mengulurkan kerudung mereka ke dada mereka dan janganlah
mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka
atau bapak mereka, atau bapak suami mereka, atau putra-putra mereka,
atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau
putra-putra saudara mereka, atau putra-putra saudari mereka, atau
wanita-wanita beriman, atau budak-budak yang mereka miliki, atau
para pembantu laki-laki yang sudah tidak memiliki keinginan terhadap
wanita atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita."
(An-Nur: 31)
Setelah itu, Al-Qur'an mengatakan, "Dan janganlah mereka memukulkan
kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang
beriman supaya kamu beruntung." (An-Nur: 31)
Jadi, wahai Akhi, Islam telah memerintahkan kepada wanita untuk
menutup perhiasannya kecuali di hadapan mereka yang mempunyai
hubungan mahram, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat
yang mulia dari kitab Allah itu.
KESIMPULAN
Prinsipnya, wahai Akhi, wanita dan pria itu saling memberikan
ketenteraman, yang di balik itu terdapat hikmah dari Allah Yang
Mahabenar, yaitu untuk melahirkan anak-anaknya dan agar memakmurkan
dunia. Barangsiapa keluar dari tujuan ini, ia berarti telah melakukan
kerusakan di bumi. Jadi, harus ada perincian hubungan antara
wanita dan pria; siapakah yang diberi pembatasan, dan siapa pula yang
diberi kebebasan. Pembatasan untuk pihak yang lemah lembut dan
tidak mampu menanggung beban berat, sedangkan kebebasan diberikan
kepada pihak yang kuat dan memiliki karakter tubuh yang mendukungnya
menunaikan tugas perjuangan. Jadi, Islam tidak pernah menzhalimi,
tetapi melindungi kehormatan, kesucian, dan hak-hak wanita, seraya
merangkai ketenteraman hubungan antara wanita dan pria.
Anda, wahai Akhi, tidak akan menemukan tatanan apa pun yang
sejak semula memberikan keluasan gerak bagi wanita, kecuali dalam
syariah Islam. Anda tidak akan menemukan hal itu, sekalipun dalam
konstitusi Perancis yang bahkan tidak memberikan wewenang penuh
kepada wanita untuk mengelola hartanya sendiri.
Islam datang dengan membawa keputusan ini: "Allah berwasiat
kepada kalian tentang warisan anak-anak kalian, yaitu bagian seorang
anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan." (An-
Nisa': 11)
Hal itu, wahai Akhi, lantaran ada hikmah yang dalam, yaitu bahwa
Allah swt. menjadikan wanita sebagai pihak yang disantuni dan diberi
nafkah, sedangkan laki-laki dituntut untuk memberikan nafkah. Tetapi,
karena wanita masih mempunyai hubungan kekerabatan, maka ia juga
harus memperoleh warisan, demi mewujudkan keadilan yang sempurna.
Karena itulah ia masih mendapatkan separoh bagian dari anak laki-laki.
Sebagai ringkasan dari apa yang telah saya sampaikan dalam
masalah ini, Ikhwan sekalian, saya hendak katakan bahwa Islam pada
dasarnya telah menjadikan wanita setara dengan pria dalam asal-usul,
keberadaan, dan hak-haknya secara umum. Islam mengakui adanya
hubungan timbal-balik antara wanita dengan pria. Kemudian Islam
menetapkan kewajiban-kewajiban dan aturan-aturan yang wajib
dilaksanakan oleh wanita di atas suatu asas yang menjaga kehormatan
wanita, mengiringi karakter-karakter khusus yang dianugerahkan Allah
kepada kaum wanita. Kemudian Islam mendidiknya dengan pendidikan
yang seutuhnya, dan menjadikan istri-istri Nabi sebagai teladan yang
sempurna. "Wahai istri-istri Nabi, kalian tidaklah sama dengan wanita
lain, jika kalian bertaqwa. Maka janganlah kalian lembut dalam berbicara
sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya,
dan ucapkanlah perkataan yang baik." (Al-Ah^ab: 32)
Kemudian, Allah juga menyertakan istri-istri kaum mukminin pada
umumnya beserta istri-istri Nabi. "Wahai Nabi, katakanlah kepada istriistrimu,
putri-putrimu, dan istri-istri kaum mukminin, hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." (Al-Ah^ab: 59)
Anda, wahai Akhi, menemukan bahwa Allah Yang Mahabenar swt.
telah menjadikan wanita sebagai perumpamaan bagi orang-orang
beriman dan orang-orang kafir. "Allah membuat istri Nuh dan istri Luth
sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di
bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hambahamba
Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya,
maka kedua suaminya tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari
(siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), 'Masuklah ke neraka
bersama orang-orang yang masuk neraka.' Dan Allah membuat istri
Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata,
Wahai Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam
surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan
selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.'" (At-Tahrim: 10-11)
Setelah ini, wahai Akhi, Anda menemukan perpaduan yang indah:
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan
perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam
ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan
yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan
perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,
laki-laki dan perempuan yang meme-lihara kehormatannya, serta lakilaki
dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah
menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al-
Ah^ab: 35)
Adalah kenyataan, wahai Akhi, bahwa Islam tidak pernah ber-buat
semena-mena dan zhalim. Islam dan karakter manusia serta realitas
kehidupan seiring sejalan, sebagaimana yang telah diciptakan oleh
Tuhan manusia dan kehidupan itu sendiri.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada
penghulu kita: Muhammad, segenap keluarga, dan sahabatnya.